News

Krisis Makin Memburuk, Sri Lanka Mulai Kehabisan Bahan Bakar Total

Dalam pidatonya, Ranil Wickremesinghe juga mengaku bahwa Sri Lanka sangat membutuhkan USD 75 juta (Rp1 triliun) dalam valuta uang asing.


Krisis Makin Memburuk, Sri Lanka Mulai Kehabisan Bahan Bakar Total
Dalam foto ini, berbagai kendaraan mengantre di sebuah pompa bensin di ibukota Kolombo (Reuters via BBC)

AKURAT.CO Perdana Menteri Sri Lanka yang baru diangkat mengonfirmasi bahwa negaranya telah kehabisan stok bensin sebagai buntut dari krisis ekonomi terburuk dalam lebih dari 70 tahun.

Dalam pidatonya, Ranil Wickremesinghe juga mengaku bahwa Sri Lanka sangat membutuhkan USD 75 juta (Rp1 triliun) dalam valuta uang asing. Dana ini, kata Wickremesinghe, sangat diperlukan dalam beberapa hari ke depan untuk membayar impor penting, termasuk obat-obatan.

Ekonomi negara kepulauan itu telah terpukul keras oleh pandemi Covid-19, kenaikan harga energi, dan pemotongan pajak populis. Kekurangan kronis terhadap mata uang asing dan inflasi yang melonjak telah menyebabkan keterbatasan stok obat-obatan, bahan bakar, dan kebutuhan pokok lainnya.

baca juga:

Terlihat dalam berbagai foto, kendaraan, seperti becak, alat transportasi paling populer di ibu kota, dan kendaraan lain mengantre di pom bensin di Kolombo.

"Kami kehabisan bensin … Saat ini, kami hanya memiliki stok bensin untuk satu hari. Beberapa bulan ke depan akan menjadi masa-masa yang paling sulit dalam hidup kita," kata Ranil Wickremesinghe dalam pidato kenegaraan yang disiarkan pada hari Senin (16/5). Wickremesinghe ditunjuk sebagai PM, menggantikan saudara presiden, Mahind a Rajapaksa pada Kamis (12/5).

Krisis Makin Memburuk, Sri Lanka Mulai Kehabisan Bahan Bakar Total - Foto 1
 Dinuka Liyanawatte/Reuters

Meski begitu, dilaporkan masih ada pengiriman bensin dan solar menggunakan jalur kredit dari India. Dan menurut Wickremesinghe, upaya ini bisa sementara dijadikan sarana untuk menyediakan pasokan bahan bakar dalam beberapa hari ke depan.

Wickremesinghe kemudian mengatakan bahwa bank sentral terpaksa mencetak uang untuk membayar tagihan upah pegawai pemerintah dan keperluan lainnya. 

"Ini di luar keinginan saya sendiri; saya terpaksa mengizinkan pencetakan uang untuk membayar pegawai negeri dan membiayai barang dan jasa penting. Namun, kita harus ingat bahwa mencetak uang menyebabkan depresiasi rupee," katanya, seperi dikutip dari BBC.

Menyusul itu, Wickremesinghe mengusulkan penjualan maskapai milik negara Sri Lanka Airlines. Karenanya, maskapai ini kemungkinan besar akan diprivatisasi. Upaya ini, kata PM baru itu, adalah bagian dari langkah untuk menstabilkan keuangan negara. 

Dilaporkan  maskapai itu telah kehilangan 45 miliar rupee Sri Lanka (Rp1,8 triliun) bahwa untuk tahun yang berakhir pada Maret 2021.

Dalam beberapa minggu terakhir, telah terjadi protes besar, terkadang disertai kekerasan, terhadap Presiden Gotabaya Rajapaksa dan keluarganya.

PM Mahinda pun mengundurkan diri usai pendukung pemerintahnya bentrok dengan pengunjuk rasa. Sembilan orang tewas dan lebih dari 300 terluka dalam kekerasan tersebut.

Baca Juga: PM Sri Lanka Mundur Usai Anggota Parlemen Tewas dan Pendemo Anti-Pemerintah Diserang Pendukungnya

Pada hari Jumat (13/5), Wickremesinghe mengatakan kepada BBC, bahwa krisis ekonomi  di negaranya 'akan menjadi lebih buruk sebelum adanya kemungkinan mulai membaik'. Dalam wawancara pertamanya sejak menjabat, dia juga berjanji untuk memastikan keluarga-keluarga di Sri Lanka bisa makan tiga kali sehari. Namun, saat mengimbau dunia untuk lebih banyak bantuan keuangan, Wickremesinghe optimis bahwa Sri Lanka 'tidak akan menderita krisis kelaparan'.

"tidak akan ada krisis kelaparan. Kita akan mendapatkan makanan," katanya.[]