News

Krisis Ekonomi Afganistan Mulai Terasa, Warga Ramai-ramai Jual Perabotan demi Sesuap Nasi

PBB memperingatkan lebih dari 97 persen populasi terancam jatuh di bawah garis kemiskinan pada pertengahan 2022.


Krisis Ekonomi Afganistan Mulai Terasa, Warga Ramai-ramai Jual Perabotan demi Sesuap Nasi
Warga Afganistan menjual perabotan mereka di Chaman-e Hozori, Kabul, di tengah anjloknya perekonomian. (Al Jazeera)

AKURAT.CO, Shukrullah membawa 4 permadani untuk dijual di lingkungan Chaman-e Hozori, Kabul. Area ini penuh dengan kulkas, bantal, selimut, peralatan makan, gorden, dipan, kasur, peralatan masak, dan rak yang dibawa ratusan orang untuk dijual.

Perabotan berjejer di lapak-lapak yang mengelilingi ladang yang dulunya berumput, tetapi kini berubah menjadi gersang dan berdebu karena kurang dirawat dan kekeringan selama beberapa dekade. Setiap barang menjadi saksi bisu kehidupan keluarga yang dibangun selama 20 tahun terakhir di ibu kota Afganistan. Sekarang, barang-barang itu diobral demi sesuap nasi.

"Kami membeli karpet ini seharga 48 ribu afgani (Rp8 juta), tapi kini hanya dapat 5 ribu afgani (Rp844 ribu) untuk keempatnya," keluh Shukrullah, dilansir dari Al Jazeera.

Warga Afganistan telah dilanda krisis keuangan sejak Taliban menguasai ibu kota pada 15 Agustus. Bank Dunia, Dana Moneter Internasional, dan bank sentral Amerika Serikat (AS) memutus akses Afganistan ke dana internasional dalam beberapa pekan terakhir. Bank-bank di seluruh Afganistan pun tutup dan banyak ATM tak lagi mengeluarkan uang tunai.

Ketika banyak bank telah dibuka kembali, penarikan tunai dibatasi 20 ribu afgani (Rp3,3 juta) per pekan. Ratusan pria dan wanita pun harus mengantre berhari-hari di luar bank pemerintah untuk menarik dana.

Bagi keluarga seperti Shukrullah, menunggu di luar lembaga keuangan yang penuh sesak itu bukanlah pilihan.

"Saya hanya perlu uang yang cukup untuk setidaknya membeli tepung, beras, dan minyak," ungkapnya.

Ia menyebut seluruh 33 orang di keluarganya pindah menjadi satu rumah selama setahun terakhir.

Krisis Ekonomi Afganistan Mulai Terasa, Warga Ramai-ramai Jual Perabotan demi Sesuap Nasi - Foto 1
Al Jazeera

Ekonomi Afganistan bahkan sudah melambat sebelum Presiden Ashraf Ghani melarikan diri dan Taliban mengambil alih. Kondisi ini diperparah oleh pandemi Covid-19 dan kekeringan berkepanjangan yang semakin menghancurkan ekonomi yang sangat bergantung pada pertanian.

Dalam laporan yang dirilis pekan lalu, PBB memperingatkan lebih dari 97 persen populasi terancam jatuh di bawah garis kemiskinan pada pertengahan 2022. Pada Senin (13/9), Sekjen PBB Antonio Guterres mengadakan KTT bantuan kemanusiaan untuk Afganistan di Jenewa guna mengumpulkan USD 600 juta (Rp8,5 triliun). Sekitar sepertiganya akan digunakan untuk bantuan pangan.

Menurut Bank Dunia, suatu negara dianggap bergantung pada bantuan ketika setidaknya 10 persen dari produk domestik bruto (PDB) berasal dari bantuan asing. Selama 20 tahun terakhir, 40 persen dari PDB Afganistan berasal dari bantuan internasional. Kini, dengan banyak negara menolak mengakui pemerintahan Taliban, para ahli memperingatkan negara itu tengah menuju bencana ekonomi.

Berbicara di Dewan Atlantik awal pekan ini, Ajmal Ahmady, mantan gubernur jenderal bank sentral Afganistan, memperingatkan PDB dapat menyusut 10-20 persen jika sanksi global tak dicabut.

Sementara itu, menurut Juru Bicara Taliban Zabihullah Mujahid, pemerintahannya berharap China dan Rusia akan menebus kekurangan bantuan ekonomi Barat. Namun, sejauh ini, Beijing maupun Moskow sama-sama tak mampu mengkompensasi kekurangan tersebut.

Krisis likuiditas pun saat ini sudah terlihat di sejumlah lingkungan di seluruh kota. Masyarakat menjual apapun yang bisa dijual demi membeli makanan dan kebutuhan pokok lainnya.

Abdullah, seorang mantan tentara berusia 40an tahun, menjadi contoh lain bencana ekonomi yang mengancam bangsa itu. Ia biasa menghasilkan sekitar USD 200 (Rp2,8 juta) sebulan sebagai abdi negara. Meski Taliban telah meminta pasukan keamanan negara untuk melapor dan kembali bertugas, Abdullah belum menerima panggilan.

Ia lantas bekerja sebagai buruh yang mengangkut barang-barang yang dibeli dan dijual warga. Dengan penghasilan ratusan afgani sehari, pria itu berharap dapat melunasi kontrakan 3 ribu afgani (Rp506 ribu) per bulan dan memberi makan keluarganya.

"Saya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Saya telah melayani negara, tapi kini harus menghirup debu dan kotoran saat mengangkut barang demi memberi makan 8 anak saya," tuturnya.

Krisis Ekonomi Afganistan Mulai Terasa, Warga Ramai-ramai Jual Perabotan demi Sesuap Nasi - Foto 2
Al Jazeera

Di sisi lain, pemilik lapak dadakan yang berjualan di trotoar mengaku tak dapat untung, meski arus barangnya besar. Zalmai, salah satu penjaga lapak, tengah memeriksa stok permadani dan bantal baru di atap taksi yang belum lama tiba. Ia pun mengaku tak banyak penjualan selama sebulan terakhir.

"Instansi dan kantor tutup, pengangguran melonjak, dan harga-harga naik. Masyarakat jual rugi perabotan mereka, sedangkan pembeli hanya membayar sedikit," ujarnya.

Seorang pelanggan di sana menanyakan TV Sony Bravia yang terpajang. TV itu sebelumnya dijual seharga ratusan dolar. Namun, saat ini, ia bersedia melepaskannya dengan harga 11 ribu afgani (Rp1,8 juta) jika pelanggan tersebut mau membayar tunai.

"Inilah kenyataan pahit yang kami alami," ucapnya.

Abdul Qadi, penjaga lapak lain yang menjual rak dan rangka dipan di seberang jalan, juga mengaku bisnisnya terseok-seok.

"Bagaimana bisa untung saat Anda harus menyediakan makanan setiap hari?" ujarnya.

Banyak warga di dekat Chaman-e Hozori menyalahkan situasi ini pada pemerintahan sebelumnya.

"Potret dan kirimkan ke Ashraf Ghani. Kirimkan padanya dan katakan, 'Saya harap Anda punya kehidupan yang menyenangkan. Sekarang lihatlah kekacauan yang Anda tinggalkan untuk negara," kecam seorang sopir yang mengantarkan perabotan kepada penjaga lapak di dekatnya. []