News

Krisis Babi di Thailand, Daging Buaya Mendadak Diserbu sebagai Gantinya

Harga daging babi di Thailand meroket ke rekor Rp87 ribu per kilo, sedangkan daging buaya hanya Rp28 ribu per kilo.


Krisis Babi di Thailand, Daging Buaya Mendadak Diserbu sebagai Gantinya
Daging buaya di penangkaran Wichai Rungtaweechai di Nakhon Pathom, Thailand, mendadak diserbu konsumen, menyusul meroketnya harga daging babi akibat wabah flu babi. (Foto: South China Morning Post) ()

AKURAT.CO Sejak harga daging babi meroket ke rekor 200 baht (Rp87 ribu) per kilogram, telepon Wichai Rungtaweechai tak berhenti berdering. Ia kebanjiran pesanan daging buaya karena warga Thailand mencari sumber protein yang lebih murah.

Dilansir dari South China Morning Post, konsumen hanya perlu merogoh USD 2 (Rp28 ribu) untuk 1 kilogram daging buaya. Hal ini tentu melegakan bagi warga yang terdampak lonjakan harga daging babi sejak awal tahun, tetapi tidak bagi 10 ribu buaya di penangkaran milik Wichai di Nakhon Pathom, Thailand.

"Permintaan datang dari seluruh negeri. Awalnya, saya bingung menangani banyaknya permintaan. Restoran dan pedagang daging menginginkan pengiriman dalam jumlah besar. Sementara itu, pelanggan lainnya mencoba memesannya untuk dimasak sendiri," ungkapnya.

baca juga:

Daging buaya mengandung lebih banyak protein daripada daging babi, tetapi lebih alot daripada daging ayam, menurut Wichai. Masyarakat pun beralih ke reptil ini akibat krisis di peternakan babi Thailand.

Setelah berbulan-bulan menyangkal, otoritas Thailand pekan lalu akhirnya membenarkan bahwa flu babi Afrika telah menyusup ke negara itu. Penyakit tersebut telah membunuh jutaan babi di Eropa dan Asia selama beberapa tahun terakhir. Akibatnya, terjadi kelangkaan dan kenaikan harga yang meluas.

Negeri Gajah Putih telah memusnahkan ratusan ribu babi untuk mengendalikan wabah. Sementara itu, Taiwan dan Kamboja sudah melarang impor babi Thailand.

Wabah ini sontak menggerogoti pasokan daging favorit Thailand. Apalagi, ini terjadi tepat menjelang Tahun Baru Imlek ketika hidangan daging babi masih menjadi tradisi. Tak pelak, harganya melonjak sekitar USD 4 (Rp57 ribu) per kilogram.

Untuk mengendalikan harganya, Thailand memblokir ekspor babi pada 6 Januari selama 3 bulan dengan mengerem industri yang menjual sekitar 1 juta babi ke luar negeri tahun lalu.

Pada tahun 2021, Thailand memelihara 18 juta babi dan anak babi untuk konsumsi domestik. Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha pun memastikan negaranya punya banyak babi untuk memenuhi permintaan dalam negeri. Pada Senin (24/1), ia menyalahkan 'kekuatan bayangan' yang memanipulasi harga menjelang Tahun Baru Imlek.

"Wabah belum menyebar ke seluruh negeri. Hanya 20 persen babi yang mati. Jadi, mengapa kita masih menghadapi kelangkaan ini? Apa ada orang yang mencoba ikut campur dalam rantai pasokan?" tudingnya.

Saat situasi normal, kebanyakan warga Thailand merasa mual membayangkan makan buaya. Bisnis Wichai pun dulu mengandalkan ekspor kulit dan darah buaya sebagai suplemen kesehatan. Tak disangka, ia kini harus meminta bantuan untuk memenuhi permintaan mendadak.

"Saya meminta peternak lain untuk membantu saya. Saya butuh 500 kilogram untuk memenuhi permintaan pelanggan dan saya tak mampu melakukannya sendiri," ujarnya.

Bagi penjual buaya Thailand, kesempatan tak terduga ini membantu menebus bisnis yang surut selama 2 tahun. Banyak yang hanya bertahan hidup dengan mengurangi biaya dan mengandalkan kemampuan buaya mereka untuk bertahan hidup dengan sedikit makanan selama beberapa bulan.

Di restorannya beberapa kilometer dari penangkaran, istri Wichai, Utaiporn, menyiapkan masakan klasik Thailand, yaitu pad kaprao dan sup tom sap (sup asam pedas). Daging babinya pun diganti dengan daging buaya yang direbus, ditumis, dicincang, atau diungkep.

"Lebih sulit memasak daging buaya daripada ayam atau babi. Ada metode khususnya. Jika Anda tak tahu cara memasaknya dengan benar, rasanya akan sedikit amis," terang Utaiporn.

Daging buaya awalnya kurang diminati di dalam negeri. Peternakan Hia Sak yang juga berada di Nakhon Pathorn telah menggunakan media sosial untuk membangkitkan minat tersebut. Peternakan itu biasanya mengekspornya ke China daratan, Hong Kong, dan Taiwan. Namun, Covid-19 telah menghancurkan bisnisnya di luar negeri.

Sarawut Charoenwatsasuk terlihat menambahkan bumbu ke sup daging buayanya. Pelanggan 52 tahun itu mengaku pertama kali mencicipi daging reptil itu sehari sebelumnya. Namun, ia sudah ketagihan.

"Saya berani bertaruh daging buaya mampu menggeser daging babi jika harganya terus melambung," ucapnya.[]