News

KPK Tetapkan Richard Louhenapessy Tersangka Pencucian Uang

Richard sebelumnya ditetapkan menjadi tersangka suap pemberian izin pembangunan cabang usaha retail di Ambon


KPK Tetapkan Richard Louhenapessy Tersangka Pencucian Uang
Mantan Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy di Gedung Merah Putih KPK (AKURAT.CO/Fajar Rizky Ramadhan)

AKURAT.CO, Mantan Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy kembali ditetapkan menjadi tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dia ditetapkan menjadi tersangka tindak pidana pencucian uang.

Pelaksana Tugas Juru Bicara KPK Bidang Penindakan Ali Fikri mengatakan penetapan tersangka terhadap Richard dilakukan setelah penyidik mendapatkan bukti permulaan yang cukup ditambah dengan keterangan dari para saksi.

Richard diduga telah menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaannya dari hasil  korupsi.

baca juga:

"Tim penyidik KPK kemudian mendapati adanya dugaan tindak pidana lain yang diduga diakukan saat yang bersangkutan masih aktif menjabat wali kota Ambon berupa TPPU," jelas Ali dalam keterangannya, Senin (4/7/2022).

"Diantaranya kesengajaan menyembunyikan maupun menyembunyikan maupun menyamarkan asal usul kepemilikan harta benda dengan menggunakan identitas pihak-pihak tertentu," tambahnya.

Ali menyatakan tim penyidik lembaga antirasuah saatt ini akan menjadwalkan pemanggilan sejumlah saksi untuk menguatkan sangkaan pencucian uang yang dilakukan Richard.

"Pengumpulan alat bukti saat ini terus dilakukan dengan menjadwalkan pemanggilan saksi-saksi," tuturnya.

Ali juga berjanji bakal memberikan informasi lanjutan terkait dengan perkara yang tengah diusut lembaga antirasuah tersebut.

"Kami mengharapkan dukungan masyarakat dimana jika memiliki informasi maupun data terkait aset yang terkait perkara ini untuk dapat menyampaikan pada tim penyidik maupun melalui layanan call center 198," tukas dia.

KPK sebelumnya menetapkan Richard Louhenapessy sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap pemberian izin pembangunan cabang usaha retail di Ambon.

Ia ditetapkan sebagai tersangka bersama Staf Tata Usaha Pimpinan pada Pemkot Ambon Andrew Erin Hehanussa, dan Karyawan Alfamidi Kota Ambon Amri.

Dalam kasus tersebut, KPK sebenarnya telah menaikkan status perkara tersebut ke penyidikan pada awal April 2022. Namun KPK baru melakukan publikasi identitas tersangka pada bulan Mei 2022 setelah adanya upaya paksa penangkapan dan penahanan.

Terkait kasus tersebut, KPK menduga terdapat penyerahan suap senilai Rp 500 juta untuk penerbitan izin pembangunan 20 Alfamidi di Kota Manise.[]