News

KPK Panggil Eks Pegawai MA untuk Bongkar Kasus Suap Penanganan Perkara

KPK Panggil Eks Pegawai MA untuk Bongkar Kasus Suap Penanganan Perkara
Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi (AKURAT.CO/Fajar Rizky Ramadhan)

AKURAT.CO, Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil pensiunan di Mahkamah Agung (MA) Ramli M Sidik hari ini, Kamis (17/11/2022). Ia bakal didalami pengetahuannya terkait kasus dugaan suap penanganan perkara yang menjerat Hakim Agung, Sudrajad Dimyati dan kawan kawan.

Pemeriksaan dilakukan di Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi," kata juru bicara bidang penindakan KPK Ali Fikri dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (17/11/2022).

Meski begitu Ali enggan merinci lebih jauh terkait materi pendalaman yang bakal ditanyakan penyidik kepada saksi. Namun kehadiran Ramli dibutuhkan penyidik untuk diperiksa pengetahuannya seputar perkara agar melengkapi informasi beserta bukti.

baca juga:

Terkait kasus itu, lembaga antirasuah membenarkan telah menetapkan Hakim Agung lainnya yakni Gazalba Saleh sebagai tersangka. Gaszalba diduga terjerat kasus yang sama dengan Hakim Agung Sudrajad Dimyati yakni soal kepengurusan penanganan perkara di MA.

"Iya benar salah satu tersangka tersebut adalah Hakim Agung MA (Galzaba Saleh)," kata juru bicara bidang penindakan KPK Ali Fikri dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (13/11/2022).

Meski begitu Ali belum dapat membeberkan terkait identitas tersangka lainnya yang turut dijadikan tersangka selain Gazalba Saleh. Alasannya, pemberian informasi identitas sampai perkara baru akan dibeberkan usai dilakukan penangkapan ataupun penahanan.

Lebih jauh, sebelumnya KPK telah menetapkan 10 orang termasuk Sudrajad Dimyati. Selain Sudrajad Dimyati, mereka adalah Elly Tri Pangestu, hakim yustisial atau panitera pengganti MA; Desy Yustria dan Muhajir Habibie, PNS pada Kepaniteraan MA; Nurmanto Akmal dan Albasri, PNS MA; Yosep Parera dan Eko Suparno, pengacara; Heryanto Tanaka dan Ivan Dwi Kusuma Sujanto, swasta atau debitur Koperasi Simpan Pinjam Intidana.

Kasus ini terbongkar lewat operasi tangkap tangan (OTT) yang digelar beberapa waktu lalu. Sudrajad diduga menerima suap untuk memenangkan gugatan perdata kepailitan Koperasi Simpan Pinjam Intidana di Pengadilan Negeri Semarang.

Yosep Parera dan Eko Suparno diduga menyerahkan uang SGD205 ribu atau senilai Rp2,2 miliar ke Desy Yustria untuk pengurusan perkara. Dari total uang suap itu, Desy menerima jatah Rp250 juta, sementara Muhajir Rp850 juta dan Elly Rp100 juta. Adapun Sudrajad menerima Rp800 juta.

Akibat perbuatannya, Sudrajad dan penerima lainnya yaitu Desy, Elly, Muhajir, Nurmanto dan Albasri disangka melanggar Pasal 12 huruf (c) atau Pasal 12 huruf (a) atau (b) Juncto Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Sementara selaku pemberi, Heryanto, Yosep, Eko dan Ivan disangkakan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf (a) atau (b) atau Pasal 13 atau Pasal 6 huruf (c) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.[]