News

KPK Geledah Kantor Pertani Terkait Suap Impor Bawang Putih


KPK Geledah Kantor Pertani Terkait Suap Impor Bawang Putih
Penyidik KPK membawa sebuah koper besar berwarna setelah menggeledah ruangan Anggota DPR RI, I Nyoman Dhamantra, di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (12/8/2019) (AKURAT.CO/Khalishah Salsabila)

AKURAT.CO, Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan penggeledahan terhadap kantor PT Pertani (Persero) dalam rangkaian penyidikan kasus suap izin impor bawang putih.

Juru bicara KPK Febri Diansyah menuturkan, selain kantor PT Pertani, penyidik juga menggeledah sejumlah lokasi terkait kasus ini secara paralel.

"Hari ini dua tim secara paralel ditugaskan di Jakarta dan Bandung," ujar Febri di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (14/8/2019).

Untuk lokasi penggeledahan di Jakarta, selain kantor PT Pertani, penyidik juga menggelah dua lokasi lainnya, yakni tempat tinggal salah seorang saksi di Apartemen Kalibata City dan rumah tersangka Elviyanto di kota Wisata Florence.

Sedangkan di Bandung terdapat dua lokasi yang digeledah yakni, sebuah rumah yang disinyalir milik saksi di Katapang Indah Residence, dan Rumah tersangka Doddy Wahyudi di Cipahit Bandung Wetan.

"Dari lokasi tersebut KPK lakukan penyitaan sejumlah dokumen terkait pengurusan impor bawang putih dan barang bukti elektronik," terang Febri.

Febri enggan merinci terkait nama saksi yang rumahnya baru saja digeledah, namun dipastikan rumah tersebut milik saksi yang erat kaitannya dalam kasus ini.

"Rumah saksi yang digeledah milik pihak yang sebelumnya kami amankan dalam OTT," jelasnya.

Untuk diketahui, KPK sejauh ini telah menetapkan tiga orang sebagai tersangka dalam kasus ini. Ketiganya terdiri dari Chandry Suanda (CSU) alias Afung, Doddy Wahyudi (DDW), dan Zulfikar (ZFK) yang diduga sebagai pihak pemberi dari unsur swasta.

Sedangkan sebagai penerima, yakni anggota Komisi VI DPR RI Fraksi PDIP I Nyoman Dhamantra (INY), Mirawati Basri (MBS) selaku orang kepercayaan I Nyoman, dan Elviyanto (ELV) dari unsur swasta.

KPK menduga terdapat permintaan "fee" dari I Nyoman Dhamantra melalui Mirawati terhadap Afung selaku pemilik PT Cahaya Sakti Agro dalam perizinan impor bawang putih. Saat itu terjadi kesepakatan antara kedua pihak, dimana angka yang disepakati pada awalnya adalah Rp3,6 miliar dan komitmen "fee" Rp1.700 sampai Rp1.800 dari setiap kilogram bawang putih yang diimpor.

Adapun komitmen "fee" tersebut akan digunakan untuk mengurus perizinan kuota impor 20 ribu ton bawang putih untuk beberapa perusahaan termasuk perusahaan yang dimiliki oleh Chandry alias Afung.

Dari permintaan "fee" Rp3,6 miliar tersebut sudah terealisasi Rp2,1 miliar. Setelah menyepakati metode penyerahan, Zulfikar mentransfer Rp2,1 miliar ke Doddy. Kemudian Doddy mentransfer Rp2 miliar ke rekening kasir "money changer" milik I Nyoman.

Kemudian, Uang Rp2 miliar tersebut direncanakan untuk digunakan mengurus Surat Persetujuan Impor (SPI) bawang putih tersebut. Sedangkan Rp100 juta masih berada di rekening Doddy yang akan digunakan untuk operasional pengurusan izin.[]

Dian Rosmala

https://akurat.co