News

KPK Didesak Periksa Kontraktor Penyuap Nurdin Abdullah

Ferry Tanriady telah mengakui menyerahkan suap di dalam persidangan di Pengadilan Tipikor


KPK Didesak Periksa Kontraktor Penyuap Nurdin Abdullah
Massa Komite Pergerakan Mahasiswa Indonesia di depan Gedung KPK (ISTIMEWA)

AKURAT.CO, Kelompok mahasiswa dari Komite Pergerakan Mahasiswa Indonesia (KOMPAS. Ind) mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengusut dan memeriksa penyuap Gubernur Nonaktif Nurdin Abdullah yang kini telah duduk di kursi terdakwa.

Koordinator Aksi Andilas dalam orasinya di depan Gedung Merah Putih mengatakan, kontraktor terkemuka di Provinsi Sulawesi Selatan, Ferry Tanriady, yang terungkap dalam persidangan telah memberikan sejumlah uang sebesar Rp 2,2 miliar untuk operasional Gubernur Nonaktif Nurdin Abdullah belum diperiksa.

"Sebagai pelaku utama penyuapan gubernur nonaktif Provinsi Sulawesi Selatan tersebut, hingga saat ini Ferry Tanriady masih belum usut dan ditangkap oleh KPK," kata Andilas di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (15/10/2021).

Padahal lanjut dia, Ferry Tanriady telah mengakui beberapa kali dalam fakta persidangan Tipikor, bahwa benar dirinya telah melakukan penyuapan yang ia berikan melalui ajudan Nurdin Abdullah.

“Tapi kenapa sampai saat ini Ferry belum ditangkap oleh KPK. Kenapa?" kata Andilas.

Massa aksi juga meminta untuk bertemu pimpinan KPK, namun sayangnya para pimpinan KPK sedang tidak berada di tempat. Sehingga Lembaga Anti Rasuah tersebut hanya mengirim salah seorang staf, namun tidak ketahui pasti apa posisi jabatannya.

“Kami ingin menemui pimpinan KPK untuk menegaskan kepada pimpinan KPK khususnya bapak Firli Bahuri untuk segera mengembangkan, mengusut, memanggil dan memeriksa kontraktor tersebut atas dugaan suap dan gratifikasi kepada gubernur Sulsel nonaktif Nurdin Abdullah,” ungkapnya.

Selanjutnya puluhan mahasiswa yang terlihat menggunakan baju koko dan peci putih ini terlihat memberikan sepucuk berkas yang mereka sebut sebuah bentuk laporan.

“Yang kami serahkan itu dalam bentuk laporan,” tegasnya lagi.

Berdasarkan pantauan awak media, massa aksi juga membawa keranda mayat berbalut kain putih, menurut Adilas hal itu dilakukan pihaknya untuk mengingatkan bahwa matinya penegakkan hukum di Indonesia.

“Maksudnya kami bawa keranda mayat itu bahwa tanda matinya penegak hukum. Keranda tersebut sebagai buntut dari belum diperiksanya dan dipanggil Ferry Tanriady oleh KPK RI,” tutup Andilas.

Selain itu pihaknya juga mendorong dan meminta KPK untuk lebih professional dalam mengusut dan mengembangkan kasus suap dan gratifikasi yang melibatkan gubenur nonaktif Nurdin Abdullah.

Sebelumnya diberitakan, kontraktor pemberi gratifikasi ke Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) nonaktif Nurdin Abdullah, Ferry Tanriadi, mengungkap sebab dirinya memberikan Rp 2,2 miliar. Ferrry mengaku dimintai dana operasional oleh Nurdin Abdullah.

Hal tersebut terungkap saat Ferry Tanriadi menjadi saksi dalam sidang lanjutan kasus suap terdakwa Nurdin Abdullah di Pengadilan Tipikor Makassar, Kamis (23/9/2021).

Namun Gubernur Sulsel nonaktif, Nurdin Abdullah (NA) menilai saksi Ferry Tanriadi tak jujur. Pasalnya, keterangan yang disampaikan dalam persidangam terkesan membalikkan fakta yang sebenarnya. []