News

KPK Cecar Staf Asisten Sudrajad Dimyati Terkait Kasus Suap Kepengurusan Perkara di MA

KPK Cecar Staf Asisten Sudrajad Dimyati Terkait Kasus Suap Kepengurusan Perkara di MA
Juru Bicara Bidang Penindakan KPK Ali Fikri di Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi (AKURAT.CO/Fajar Rizky Ramadhan)

AKURAT.CO Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil staf Asisten Sudrajad Dimyati, Faisal terkait kasus dugaan suap kepengurusan perkara di Mahkamah Agung (MA). Ia bakal didalami keterangannya sebagai saksi.

"Pemeriksaan dilakukan di Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi Jalan Kuningan Persada Kav. 4 Jakarta," ujar Juru Bicara Bidang Penindakan KPK Ali Fikri dalam keterangannya di Jakarta, Senin (31/10/2022).

Meski begitu Ali tidak menjelaskan secara merinci pendalaman apa yang akan dilakukan penyidik terhadap saksi. Namun, Ali menyampaikan pemeriksaan dilakukan melengkapi informasi dan alat bukti terkait perkara untuk menguatkan tudingan penyidik terhadap perbuatan para tersangka dalam kasus itu.

baca juga:

Ali juga berjanji pihaknya akan memberikan informasi perkembangan perkara kepada publik sebagai bentuk akuntabilitas kinerja lembaga antikorupsi dalam menangani suatu perkara.

Sebagai informasi, dalam perkara ini total KPK menetapkan 10 orang menjadi tersangka. Selain Sudrajad Dimyati, mereka adalah Elly Tri Pangestu, hakim yustisial atau panitera pengganti MA; Desy Yustria dan Muhajir Habibie, PNS pada Kepaniteraan MA; Nurmanto Akmal dan Albasri, PNS MA; Yosep Parera dan Eko Suparno, pengacara; Heryanto Tanaka dan Ivan Dwi Kusuma Sujanto, swasta atau debitur Koperasi Simpan Pinjam Intidana.

Kasus ini terbongkar lewat operasi tangkap tangan yang digelar September lalu. Sudrajad diduga menerima suap untuk memenangkan gugatan perdata kepailitan Koperasi Simpan Pinjam Intidana di Pengadilan Negeri Semarang.

Yosep Parera dab Eko Suparno diduga menyerahkan uang 205 ribu dolar Singapura atau senilai Rp2,2 miliar ke Desy Yustria untuk pengurusan perkara tersebut. Dari total uang suap itu, Desy menerima jatah Rp250 juta, sementara Muhajir Rp850 juta dan Elly Rp100 juta. Adapun Sudrajad menerima uang Rp800 juta.

Akibat perbuatannya, Sudrajad dan penerima lainnya yaitu Desy , Elly, Muhajir, Nurmanto dan Albasri disangka melanggar Pasal 12 huruf c atau Pasal 12 huruf a atau b Jo Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

Sementara selaku pemberi, Heryanto, Yosep, Eko dan Ivan disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 atau Pasal 6 huruf c Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP. []