News

KPK Beberkan Kronologi Mantan Wali Kota Cimahi Sogok Eks Penyidik KPK

KPK Beberkan Kronologi Mantan Wali Kota Cimahi Sogok Eks Penyidik KPK
Konferensi Pers penetapan tersangka mantan Wali Kota Cimahi Ajay Muhammad Priatna di Gedung Merah Putih KPK, Kamis (18/8/2022). (AKURAT.CO/Fajar Rizky Ramadhan)

AKURAT.CO, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) secara resmi kembali menahan mantan Wali Kota Cimahi Ajay Muhammad Priatna terkait kasus dugaan suap. Ajay ditahan lantaran adanya dugaan pemberian uang suap ke eks penyidik KPK Stepanus Robin Patujju dan penerimaan gratifikasi.

Deputi Bidang Penindakan dan Eksekusi KPK Karyoto mengatakan Ajay bakal ditahan selama 20 hari kedepan guna proses penyidikan.

"Untuk proses penyidikan, dilakukan upaya paksa penahanan Tsk AMP (Ajay) oleh Tim Penyidik selama 20 hari pertama, terhitung mulai tanggal 18 Agustus 2022 sampai dengan 6 September  2022," ujar Karyoto di Gedung Merah Putih KPK, Kamis (18/8/2022).

baca juga:

Karyoto menyampaikan Ajay bakal ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) KPK pada Kavling C1.

Karyoto membeberkan suap tersebut berawal saat Ajay yang masih menjabat sebagai Wali Kota Cimahi untuk periode 2017-2022 mendapatkan informasi bahwasannya tim KPK tengah mengusut dugaan korupsi terkait penyaluran dana babtuan sosial (Bansos) pada wilayah Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

"Atas informasi tersebut, AMP (Ajay) diduga berinisiatif untuk mengkondisikan agar jangan sampai KPK juga melakukan pengumpulan bahan keterangan dan informasi di Kota Cimahi," ujarnya.

Ajay yang kemudian mencari referensi kenalan terpercaya di KPK melalui warga binaan di Lapas Sukamiskin yakni Radian Ashar dan Saiful Bahri.

"Rekomendasi yang sampaikan Radian Ashar dan Saiful Bahri pada AMP (Ajay) yaitu salah seorang penyidik KPK bernama Stepanus Robin Patujju alias Roni," ujarnya.

Kemudian apda Oktober 2020 lalu, keduanya melakukan pertemuan pertama kali. Namun saat itu Stepanus mengaku dirinya sebagai Roni. Keduanya bertemu di salah satu hotel di wilayah Bandung untuk membicarakan detail masalah yang tengah dihadapi oleh Ajay.

Setelahnya pertemuan telah dilakukan, Stepanus kemudian menawarkan sebuah bantuan pada Ajay agar segala pengumpulan bahan keterangan dan informasi di Kota Cimahi tidak berlanjut.

Dengan begitu, nama Ajay tidak akan menjadi target operasi lembaga antirasuah. Namun hal itu diselipkan berupa kesepakatan pemberian sejumlah uang.

"Merespon tawaran tersebut, AMP (Ajay) diduga sepakat dan bersedia untuk menyiapkan dan memberikan sejumlah uang pada Stepanus Robin Patujju dan Maskur Husain," tuturnya.

Stepanus awalnya diduga memalak Ajay uang sebesar Rp 1,5 miliar, namun Ajay hanya menyanggupi Rp 500 juta saja. Kemudian dengan penyerahan uang dilakukan di salah satu hotel di Jakarta.

Ajay menyerahkan langsung uang sebesar Rp 100 juta sebagai tanda jadi dengan Stepanus yang kemudian sisa uang diberikan oleh ajudan Ajay.

"Adapun jumlah uang yang diduga diberikan AMP (Ajay) pada Stepanus Robin Patujju alias Roni dan Maskur Husain seluruhnya sekitar Rp 500 juta," beber Karyoto.

Adapun uang yang diperuntukkan Stepanus tersebut diduga berasal dari gratifikasi yang disetorkan sejumlah aparatur sipil negara (ASN) di Kota Cimahi.

"Masih terus akan dilakukan pendalaman," tukas dia.

Atas perbuatannya tersebut, Ajay disangkakan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau uruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 te tang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. []