Lifestyle

KPAI: Sepak Bola Indonesia Harus Ramah Anak

KPAI: Sepak Bola Indonesia Harus Ramah Anak
Ultras Garuda bersama gabungan suporter klub di Indonesia melakukan aksi 1000 lilin dan tabur bunga di depan Kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (2/10/2022). Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk solidaritas dan bentuk rasa duka cita atas tragedi tewasnya ratusan suporter Arema usai menonton pertandingan antara Arema Malang vs Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang. (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyayangkan tragedi Kanjuruhan yang menewaskan banyak orang.

Diketahui, total korban tragedi Kanjuruhan di Malang adalah sebanyak 448 orang. Jumlah tersebut merupakan data akumulasi 323 korban luka-luka dan 125 total yang meninggal di Kanjuruhan.

Komisioner KPAI, Jasra Putra pun menilai sepak bola seharusnya menjadi tontotan keluarga yang ramah anak.

baca juga:

Apalagi dalam peristiwa ini, tidak sedikit anak-anak yang hadir menonton ke stadion, baik dibawa oleh orangtuanya maupun datang bersama teman-teman sebayanya.

"Sepak bola adalah tontonan keluarga, untuk itu penting menghadirkan sepak bola yang ramah anak. Sebab anak masuk di acara dengan sebutan suporter, tentu ada perlakuan khusus, seperti edukasi, mitigasi dan pengurangan risiko bagi orangtua yang membawa anak di stadion," kata Jasra dalam keterangan pers yang diterima Akuratco, Minggu (3/10/2022).

"Tentu mereka tidak siap jika tiba-tiba harus berhadapan dengan gas air mata dan kekerasan. Lain dengan mereka yang biasa berdemonstrasi telah mempersiapkan diri ketika banyak gas air mata," sambungnya.

Jasra juga mengaku miris dengan beredarnya foto dan video sejumlah anak yang mencoba menyelamatkan diri bersama orangtuanya dalam peristiwa di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu (1/10/2022) malam itu.

"Beredarnya foto, video tentang situasi anak-anak di tengah lautan massa tak terkendali, bersama orangtua mereka. Ada yang digandeng, digendong. Adanya pemukulan, kekerasan, teriakan-teriakan, perihnya asap gas air mata, massa yang panik, melawan arus demi mencari selamat. Ternyata peristiwa itu tidak hanya terjadi di stadion tapi juga di luar stadion dalam rangka menyelamatkan diri," ungkapnya. 

Jasra mengatakan, setelah kejadian tersebut, rasa trauma anak akan muncul. Terlebih, bagi anak yang sempat terpisah atau bahkan kehilangan orangtuanya dalam peristiwa itu.

"KPAI berharap semua fokus pada pelayanan korban yang maksimal, baik yang masih hidup maupun telah meninggal. Lembaga layanan yang tersedia, bisa jemput bola, untuk menolong situasi anak dan keluarga yang masih perawatan agar segera bisa didampingi dan direspons baik untuk mengurangi hal yang lebih buruk dihadapi anak," pungkasnya.[]