News

Korsel Cetak Rekor Kasus Harian 4 Ribu, Sekte 'Penyembuh lewat Colok Mata' Berada di Pusat Wabah

Pihak gereja sendiri belum bisa dimintai komentar


Korsel Cetak Rekor Kasus Harian 4 Ribu, Sekte 'Penyembuh lewat Colok Mata' Berada di Pusat Wabah
Dalam gambar ini, para petugas kesehatan melakukan tes PCR di pusat pengujian Covid-19 di Seoul ( Anthony Wallace/AFP/Getty Images)

AKURAT.CO, Sebuah sekte yang kurang dikenal yang dipimpin oleh seorang pendeta yang menyodok mata untuk penyembuhan berada di pusat wabah Covid-19 di Korea Selatan (Korsel).

Diwartakan The Guardian, laporan itu datang tepat saat Korsel mencatat rekor harian barunya. Rekor dilaporkan pada Selasa (23/11), di mana infeksi harian yang dicatat Korsel saat itu mencapai hingga 4.116 kasus. Sementara rekor dicatat, negara itu juga sedang berjuang untuk menahan lonjakan kasus serius yang memerlukan rawat inap.

Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA) mengatakan rencana darurat dapat diberlakukan jika kapasitas tempat tidur ICU nasional melebihi 75 persen.

Pada Selasa tengah malam waktu setempat, rumah-rumah sakit di Korsel sudah kebanjiran hingga 586 pasien Covid-19 dengan gejala parah. Dengan cepat, pasien-pasien itu mengisi tempat tidur rumah sakit yang terbatas untuk kasus-kasus serius dan kritis. Dari ratusan pasien itu, 85 persen lebih adalah warga berusia 60 tahun ke atas.

Secara nasional, setidaknya 69 persen dari tempat tidur ICU sudah dilaporkan terisi. Situasi serupa juga tercermin di ibukota Seoul dan daerah sekitarnya, di mana kapasitas tempat tidur ICU yang terisi mencapai 83 persen. 

Di tengah lonjakan infeksi dan rawat inap itu, wabah  merebak di sebuah gereja kecil di pedesaan di kota Cheonan, selatan Seoul. Daerah itu perpenduduk 427 jiwa, tetapi 241 orang diantaranya telah terinfeksi Covid-19. Mereka yang terinfeksi terkait dengan komunitas agama, kata seorang pejabat kota kepada Reuters, Rabu.

"Kami percaya skala wabahnya besar ..." kata KDCA dalam sebuah pernyataan.

Terungkap di komunitas agama tersebut, sekitar 90 persen anggotanya belum divaksin Covid-19, dan mayoritas telah melakukan kontak dekat dalam kehidupan sehari-hari. 

Banyak dari jemaah berusia 60-an ke atas dan tidak divaksinasi, kata pejabat kota itu. Hanya 17 dari 241 kasus yang dikonfirmasi telah divaksinasi.

"Saya percaya itu adalah keyakinan anti-pemerintah gereja yang menahan orang-orang untuk percaya kepada vaksin dan mendapatkannya," kata pejabat itu, menambahkan bahwa kota itu kini dikunci.

Namun, KDCA mengatakan tidak mungkin untuk menentukan secara tepat mengapa sejumlah besar orang tidak divaksinasi, karena orang tua dan mereka yang memiliki kondisi yang mendasarinya tidak dilarang melakukan vaksinasi.

Gereja itu dibuka pada awal tahun 1990-an dan telah berkembang pesat dengan fasilitas hidup komunalnya sendiri.

Agama ini tidak secara resmi terdaftar sebagai sekte. Namun,tindakan ritual tak biasa yang dilakukan pendetanya telah menjadi sorotan. Dikenal sebagai 'pembebanan tangan di mata', praktik melibatkan aksi dengan menusuk dua mata jemaah. Aksi ini bertujuan untuk menyingkirkan keinginan sekuler seseorang, ungkap Jung youn-seok, kepala thinktank untuk sumber daya informasi kultus mengatakan kepada Reuters.

"Tindakan seperti itu sangat berbahaya dan tidak alkitabiah. Ini adalah larangan langsung dalam Kekristenan Korea," kata Jung, menambahkan bahwa ibu pendeta tersebut adalah sosok yang kuat dan dikeluarkan dari komunitas Kristen pada 1990-an karena mempraktikkan ritual yang identik.

Pihak gereja sendiri belum bisa dimintai komentar karena panggilan Reuters tidak kunjung dijawab.

Hampir sama seperti Selandia Baru, Korsel bulan ini juga telah beralih ke rencana 'hidup berdampingan dengan Covid'. Langkah ini bertujuan untuk mencabut aturan jarak yang kaku dan akhirnya membuka kembali penguncian setelah mencapai tujuan vaksinasi bulan lalu.

Namun, sejak itu, justru terjadi peningkatan tajam dalam kasus Covid-19, hingga rekor infeksi harian baru tercatat pada Selasa lalu.

Melihat wilayah metropolitan Seoul saja, situasinya cukup kritis untuk memberlakukan rencana darurat, ungkap Perdana Menteri Kim Boo-kyum mengatakan pada pertemuan tanggapan Covid pada Rabu.

Kim meminta otoritas kesehatan untuk mengklasifikasikan pasien berdasarkan tingkat keparahan gejala dan menggunakan pilihan pengobatan sendiri untuk kasus ringan atau tanpa gejala.

Angka rawat inap di Korsel kini memang meningkat, tetapi angka kematian di negara ini masih relatif rendah yaitu 0,79 persen.

Korsel menjadi salah satu negara pertama yang mencatat kasus virus corona baru setelah muncul di China pada akhir 2019. Secara keseluruhan, negara ini telah mencatat total infeksi dengan angka menembus 432 lebih kasus. Sementara kematian berada di angka 3.440, ungkap situs Worldometers.

Korsel berpenduduk 52 juta, dan dari populasi itu, 79,1 persennya telah mendapatkan dosis vaksin penuh. Sementara jumlah warga yang menerima suntikan booster baru mencapai 4,1 persen. []