News

Korea Utara Klaim Tembakkan Rudal Hipersonik, Jauh Lebih Cepat, Gesit, dan Sulit Dicegat

Korea Utara juga tampaknya telah memulai kembali sebuah reaktor yang dapat menghasilkan plutonium untuk senjata nuklir.


Korea Utara Klaim Tembakkan Rudal Hipersonik, Jauh Lebih Cepat, Gesit, dan Sulit Dicegat
Potret rudal hipersonik Hwasong-8 yang dirilis oleh media pemerintah Korea Utara. (KCNA via BBC)

AKURAT.CO, Korea Utara telah mengklaim bahwa mereka berhasil menguji rudal hipersonik baru yang dinamai Hwasong-8 pada Selasa (28/9). Menurut media pemerintah, rudal baru tersebut adalah salah satu dari 5 sistem senjata baru paling penting yang ditetapkan dalam rencana 5 tahun pengembangan militer.

Dilansir dari BBC, mereka menyebut rudal baru itu sebagai 'senjata strategis', yang biasanya berarti punya kemampuan nuklir. Peluncurannya pada hari Selasa (28/9) pun menjadi indikasi lainnya terkait teknologi senjata yang dikembangkan Pyongyang di tengah sanksi yang berat.

"Pengembangan sistem senjata ini telah meningkatkan kemampuan negara untuk membela diri dalam segala hal," bunyi laporan kantor berita pemerintah Korea Utara, KCNA.

Peluncuran terbaru ini juga menandai uji coba ketiga negara tersebut bulan ini. Selain itu, terungkap sudah jenis rudal jelajah baru serta sistem rudal balistik yang diluncurkan dengan gerbong baru.

Rudal hipersonik jauh lebih cepat dan lebih gesit dibandingkan yang biasa. Akibatnya, senjata itu jauh lebih sulit untuk dicegat oleh sistem pertahanan rudal, menurut kantor berita AFP.

KCNA juga menyatakan bahwa uji peluncuran ini memastikan kontrol navigasi dan stabilitas rudal.

Sebelumnya, pada bulan Januari, Pemimpin Korea Utara mengungkapkan bahwa para ilmuwan telah menyelesaikan penelitian untuk mengembangkan peluncur hipersonik berhulu ledak. Uji coba pada Selasa (28/9) itu pun menjadi yang pertama untuk sistem baru ini. Uji coba ketiga pada bulan ini juga menunjukkan bahwa mereka tengah mengembangkan program senjatanya.

Di sisi lain, Amerika Serikat (AS) telah menyerukan Korea Utara untuk menyerahkan senjata nuklirnya. Hubungan Pyongyang dengan pemerintahan Presiden Joe Biden sejauh ini juga penuh ketegangan.

Sementara itu, Korea Utara pun selalu bersitegang dengan Jepang yang berakar dari 35 tahun penjajahan Jepang di Korea, program nuklir dan misil Pyongyang, serta penculikan warga Jepang oleh Korea Utara di masa lalu.

Meski begitu, Pyongyang tampaknya bertekad untuk membuktikan bahwa mereka akan terus mengembangkan sistem senjata baru. Negara itu berdalih mereka memerlukannya untuk pertahanan diri sendiri.

Bulan lalu, badan atom PBB mengatakan Korea Utara tampaknya telah memulai kembali sebuah reaktor yang dapat menghasilkan plutonium untuk senjata nuklir. Lembaga itu menyebutnya sebagai perkembangan yang sangat meresahkan. []