News

Korea Utara Klaim Telah Tembakkan Dua Misil Balistik dari Gerbong

Korea Utara tembakkan dua misil balistik.


Korea Utara Klaim Telah Tembakkan Dua Misil Balistik dari Gerbong
Uji coba dilakukan pada hari Jumat (14/1) lalu (abcnews.go.com)

AKURAT.CO, Korea Utara diduga telah melakukan uji coba penembakan dua balistik misil dari sebuah gerbong pada hari Jumat (14/1) lalu, seperti dilansir dari media setempat. 

Uji coba tersebut terjadi setelah Korea Utara menyatakan telah melakukan uji coba misil hipersonik pada hari Selasa (11/1) lalu. Penembakan misil hipersonik ini diduga merupakan uji coba kedua yang dilakukan oleh pemerintah Kim Jong Un dalam kurun waktu seminggu ini atau telah tiga kali setelah Tahun Baru 2022 lalu. 

Dilansir dari Korean Central News Agency, uji coba yang dilakukan pada hari Jumat (14/1) lalu tersebut dilakukan untuk mengecek dan menilai kemampuan dari resimen misil yang dibawa kereta api dari Provinsi Phyongan Utara. 

baca juga:

Ini bukanlah uji coba penembakan misil dari sebuah gerbong pertama yang dilakukan oleh Korea Utara. Pada bulan September 2021 lalu, proses yang sama juga sempat dilakukan oleh pemerintah Korea Utara. Sejumlah tes ini diawasi secara langsung oleh sejumlah pejabat tinggi di Korean People’s Armi dan Akademi Ilmu Pertahanan. 

“Resimen menerima misi uji coba penembakan tersebut dalam waktu singkat dari Staf Umum di pagi hari pada hari Jumat sebelum dengan cepat bergerak ke tempat penembakan, dan tepat mengenai sasaran di Laut Timur Korea (juga dikenal sebagai Laut Jepang) dengan dua misil kendali taktis," jelas media KCNA.

Staf Gabungan Korea Selatan menyatakan bahwa Korea Utara telah menembakkan dua proyektil yang diduga merupakan misil balistik jarak dekat dari wilayah Uiju di Provinsi Pyongan Utara ke dalam laut di sekitar persisir timur Tanjung Korea. 

Saksi militer menyatkan telah melihat proyektil dengan jarak terbang mencapai 430 kilometer dan ketinggian mencapai 36 kilometer di atas permukaan air laut. Menanggapi hal tersebut, otoritas intelijen Korea Selatan dan Amerika Serikat sedang menganalisa hal tersebut. 

Sehari setelah uji coba yang dilakukan pada hari Selasa (11/1) lalu, AS menjatuhkan sanksi kepada delapan warga dan lembaga dari Korea Utara dan Rusia yang mendukung program misil balistik Pyongyang. 

Pada hari Jumat (14/1), Menteri Luar Negeri Korea Utara mengutuk keras keputusan AS yang tidak mendukung pengembangan senjata di Korea Utara. 

“Jika AS melakukan sebuah konfrontasi, maka DPRK terpaksa akan melakukan reaksi yang keras terhadap hal tersebut,” jelas Menteri Luar Negeri Korea Utara. 

Dalam sebuah pernyataan, sosok juru bicara Menlu Korut tersebut menyatakan bahwa negaranya berhak untuk memperkuat militernya. Ia menyatakan bahwa perkembangan yang terjadi baru-baru ini terkait senjata tipe baru tersebut adalah bagian dari upaya Korut melakukan modernisassi pada kemampuan pertahanan nasionalnya. 

Sebelumnya, Korut telah dilarang melakukan uji coba misil balistik dan senjata nuklir di bawah hukum internasional, tetapi Korut tetap saja meneruskan pengembangan senjata tersebut dan melanggar aturan internasional. []