News

Korea Utara Diprediksi Deklarasi Bebas Covid-19, Pakar: Propaganda Dongkrak Kepemimpinan Kim Jong-un

Di sisi lain, deklarasi kemenangan yang terlalu cepat dapat membuat Kim Jong-un kehilangan muka.


Korea Utara Diprediksi Deklarasi Bebas Covid-19, Pakar: Propaganda Dongkrak Kepemimpinan Kim Jong-un
Pada tahap awal wabah, Kim Jong-un menggambarkan 'pergolakan besar' ketika kasus harian demam mencapai sekitar 400 ribu. (KCNA)

AKURAT.CO Baru sebulan mengakui adanya wabah Covid-19, Korea Utara diduga siap menyatakan kemenangannya. Media pemerintah mengeklaim negara itu berhasil menghindari kematian massal, berbeda dari dugaan banyak orang di dunia. Padahal, negara itu punya salah satu sistem perawatan kesehatan terburuk di dunia, tak ada akses ke vaksin, dan catatan panjang pengabaian penderitaan rakyatnya.

Dilansir dari Associated Press, para ahli yakin angka resmi infeksi Korea Utara banyak berkaitan dengan propaganda untuk mendongkrak kepemimpinan Kim Jong-un. Jadi, ada banyak keraguan soal keakuratannya.

Meski begitu, jelas pemutakhiran data harian dari media pemerintah mencitrakan bahwa bangsa itu akan sepenuhnya mengalahkan Covid-19 yang telah menewaskan lebih dari 6 juta orang di seluruh dunia. Menurut penghitungan resmi, jumlah kasus menurun, sedangkan 18 persen dari 26 juta jiwa penduduk negara ini dilaporkan bergejala mirip Covid-19. Kurang dari 100 orang di antaranya telah meninggal.

baca juga:

Pemerintah Korea Selatan serta sejumlah ahli yakin bahwa Korea Utara akan segera menyatakan telah mengalahkan Covid-19. Tentu saja, ini akan dikaitkan dengan arahan Kim yang kuat dan cerdas.

Di sisi lain, deklarasi kemenangan dapat membuat Kim kehilangan alat yang berguna untuk mengontrol publik dan dapat membuat pemerintah terhina jika kasus berlanjut.

"Ada 2 sisi dari deklarasi semacam itu. Jika Korea Utara menyatakan Covid-19 telah hilang, itu dapat menegaskan bahwa Kim Jong-un adalah pemimpin hebat yang telah mengatasi pandemi. Namun, ia tak dapat mempertahankan kuat yang dimanfaatkannya untuk mengendalikan rakyatnya dengan dalih Covid-19," komentar Moon Seong-mook, seorang analis dari Institut Riset Korea untuk Strategi Nasional yang berbasis di Seoul.

Orang luar meyakini Kim memanfaatkan wabah untuk meningkatkan persatuan internal pada saat banyak dari rakyatnya bosan dengan 2 tahun pembatasan kejam yang telah merusak mata pencaharian mereka. Setelah itu, banyak tanda, setidaknya dalam pernyataan publik, menunjukkan deklarasi keberhasilan dalam menangani virus yang telah mengacaukan negara-negara terkaya di dunia.

Pada tahap awal wabah, Kim menggambarkan 'pergolakan besar' ketika kasus harian demam mencapai sekitar 400 ribu. Kini, ia menunjukkan kalau wabah telah melewati puncaknya. Otoritas pun bersikeras kalau tingkat kematiannya hanya sebesar 0,002 persen, terendah di dunia.

Di sisi lain, banyak yang meyakini Korea Utara memanipulasi jumlah kematian sebenarnya demi mencegah bahaya apa pun pada Kim. Negara itu diduga juga membesar-besarkan jumlah kasus demam sebelumnya guna meningkatkan kewaspadaan terhadap virus dan menarik dukungan publik yang lebih kuat untuk kontrol antivirus otoritas.