News

Kopi Karya, Mengubah Mindset Anak Muda Tentang Dunia Politik


Kopi Karya, Mengubah Mindset Anak Muda Tentang Dunia Politik
Penggagas Kopi Karya, Subhan Milady bersama Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia (Istimewa)

AKURAT.CO, Subhan Milady, salah satu Ketua Pimpinan Pusat Angkatan Muda Partai Golkar (PP AMPG) mencoba menghadirkan suasana baru di kalangan politisi muda, yaitu Kopi Karya. Ia berharap, dengan budaya 'ngopi', pembicaraan atau aktifitas politik, khususnya di kalangan anak muda tak melulu kaku dan pragmatis.

Pria asal Makassar, Sulawesi Selatan ini mulai mengaplikasikan gagasan tersebut di lingkungan PP AMPG. Ia membuat produk kopi yang diberi label Kopi Karya dan mulai dikenalkan kepada para koleganya di internal PP AMPG.

Gagasan ini berangkat dari kesadaran bahwa anak muda memiliki sifat dan karakter yang santai. Sementara dunia politik, sedikit banyak digambarkan sebagai dunia yang serius dan pragmatis. Dua hal yang kontradiktif satu sama lain, meski faktanya tak melulu demikian.

"Makanya, dengan budaya ngopi kita ingin mengubah mindset seperti itu. Bagi saya, dunia politik adalah seni sekaligus ruang untuk mempersiapkan diri kita menjadi pemimpin-pemimpin masa depan, menggantikan generasi di atas kita. Jika dunia politik hanya digambarkan kaku dan pragmatis, generasi muda tidak akan mau terjun ke dunia politik. Dan ke depan, kita akan kesulitan menemukan calon-calon pemimpin yang terbiasa dengan dinamika politik," kata Subhan di Jakarta.

Label Kopi Karya, tentu tidak terlepas dari Partai Golongan Karya (Golkar) yang kini menjadi pelabuhan politik Subhan. Selain itu, ia juga berharap kader-kader muda Partai Golkar yang berhimpun di AMPG dengan leluasa melahirkan karya-karya yang bermanfaat untuk bangsa.

Dalam beberapa tahun terkahir, Subhan mengaku sedang giat mempelajari dan memahami sisi sisi lain dari kopi. Tak hanya membuat produk semata, ia bahkan beberapa kali terjun langsung ke daerah-daerah penghasil kopi untuk menemui para petani.

Melalui studi lapangan yang ia lakukan, Subhan mengaku telah mendapat banyak cerita suka dan kopi petani kopi. Mulai dari gagal panen, harga kopi yang anjlok, hingga keuntungan yang didapat dari pertanian kopi.

Selain itu, ia juga mendapat banyak refensi mengenai perbedaan jenis kopi di tiap-tiap daerah. "Sebelumnya saya tidak bisa membedakan mana kopi arabika, mana kopi robusta. Tapi karena sering ngobrol dengan petani, akhirnya saya tahu. O..kalo robusta begini, di tanam di ketinggian sekian, dan arabika seperti ini, dan lain-lain," ujarmya.

Melalui Kopi Karya produknya, Subhan berharap dapat berkontribusi memberdayakan para petani kopi. Baginya, kopi adalah bagian dari sejarah dan budaya Indonesia. Oleh sebab itu, budaya ngopi mesti dijaga bahkan dilestarikan.

"Ngobrol apapun, seserius apapun, kalau ada kopi, semua jadi santai. Kalau bahasa saya, ngopi berarti meniadakan jarak di antara kita. Sesama kader Golkar, sesama anggota AMPG, mari kita ngopi sambil merencanakan karya-karya untuk negeri. Pesan saya ini bukan hanya untuk kader Golkar, tapi untuk semuanya," tutp Subhan.