Olahraga

Koordinator Save Our Soccer Kaget Namanya Masuk Tim Pencari Fakta Tragedi Kanjuruhan

Koordinator Save Our Soccer Kaget Namanya Masuk Tim Pencari Fakta Tragedi Kanjuruhan
Koordinator Save Our Soccer (SOS), Akmal Marhali (tengah), menyampaikan jika kasus pengaturan skor tidak hanya terjadi di sepak bola saja, tetapi juga menjalar ke olahraga lainnya. (AKURAT.CO/Agustinus Galih)

AKURAT.CO, Nama pengamat sepakbola nasional, Akmal Marhali masuk dalam daftar anggota Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) tragedi Kanjuruhan. Koordinator Save Our Soccer (SOS) itu mengaku kaget, sekaligus merasa terhormat dirinya tergabung dalam tim tersebut.

TGIPF merupakan tim yang dibentuk dan diketuai oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Hak Asasi Manusia (Menko Polhukam), Mahfud MD. Tim ini beranggotakan mulai dari organisasi profesi sepak bola, pengamat, hingga akademisi.

Selain Akmal, ada pula nama-nama seperti legenda sepakbola Indonesia, Kurniawan Dwi Yulianto serta mantan pengurus PSSI berlisensi FIFA, Nugroho Setiawan. 

baca juga:

"Saya tidak ditawarkan, tapi langsung diumumkan. Makanya saya kaget. Tapi buat saya, ini adalah sebuah kepercayaan. Artinya saya bukan minta minta atau apa, tapi ini dikasih kepercayaan. Jadi sebuah kehormatan tiba-tiba nama saya disebut," kata Akmal ketika dihubungi Akurat.co, Selasa (4/10).

"Ini momentum buat saya untuk kita bersama sama membangun sepakbola Indonesia yang harus saklek. Karena mumpung pemerintah turun tangan, semua harus saklek."

Lebih jauh, Akmal menuturkan bahwa dirinya memiliki satu usulan yang menurutnya bisa berguna untuk sepakbola nasional. Yakni membuat sebuah moratorium mengenai sepakbola, untuk mencegah terulangnya tragedi Kanjuruhan.

"Biar semua elemen introspeksi. Pengurus PSSI, PT LIB, pengelola klub, pemain, pelatih, suporter introspeksi. Sambil kemudian dibuat aturan aturan semuanya, juklak hingga peraturan," tuturnya. 

"Setelah semua dibuat, bersepakat seluruhnya untuk tidak ada lagi korban jiwa di sepakbola. Kalau kemudian ada korban jiwa lagi di sepak bola, hukumannya harus sangat berat."

Contohnya, kata Akmal, pengurangan poin, degradasi ke liga terendah, hingga yang cukup ekstrem adalah sebuah tim dicoret dari daftar anggota PSSI.

"Hukuman berat ini akan menimbulkan efek jera. Suporter pasti takut berulah, karena sejatinya mereka tidak ingin timnya turun kasta. Jangan sampai hukuman kayak sekarang sekarang," tambahnya.

Tragedi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur terjadi karena kekecewaan kelompok suporter Arema usai kalah 2-3 dari Persebaya Surabaya. Insiden ini menimbulkan ratusan orang meninggal dunia.[]