Ekonomi

Konsep Bagi Hasil, Buat Perbankan Syariah Tumbuh Cukup Baik di Tengah Pandemi?

Kinerja perbankan syariah di tengah pandemi Covid-19 masih dapat tumbuh cukup baik karena menerapkan konsep bagi hasil


Konsep Bagi Hasil, Buat Perbankan Syariah Tumbuh Cukup Baik di Tengah Pandemi?
Karyawan saat melakukan aktivitas di kantor cabang Bank Syariah Indonesia di Jakarta, Selasa (2/2/2021). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia TBK Hery Gunardi menyebutkan bahwa kinerja perbankan syariah di tengah pandemi Covid-19 masih dapat tumbuh cukup baik karena menerapkan konsep bagi hasil yang tidak dimiliki bank konvensional.

“Di syariah tentunya konsep bagi hasil atau kami namakan profit dan loss sharing ini memberikan fleksibilitas, baik pemilik dana maupun perbankan untuk bisa melakukan adjusment pada saat kondisi kurang menguntungkan,” ujarnya saat diskusi virtual ISEI Jakarta, Rabu (17/3/2021).

Hery mengungkapkan bahwa di 2020 pertumbuhan aset perbankan syariah dan dana pihak ketiga (yoy) masih tumbuh hingga dua digit angka.

“Dari sisi aset masih tumbuh double digit sebesar 13,11 persen pada 2020, di sisi dana pihak ketiga juga mengalami pertumbuhan sebesar 11,88 persen, pembiayaan juga tumbuh positif sebesar 8,08 persen,” kata dia dilansir dari Antara.

Kondisi tersebut, lanjut Hery, lebih baik dibandingkan perbankan konvensional maupun perbankan nasional yang disibukkan kepanikan di segmen kecil dan menengah, konsumer, serta wholesale sepanjang 2020.

Hery menyebutkan aset perbankan konvensional tumbuh 6,73 persen, kemudian dana pihak ketiga yang tumbuh 10,92 persen, namun -3,02 persen dari sisi pembiayaan. Tidak jauh berbeda dengan aset perbankan nasional yang tumbuh 7,12 persen, dana pihak ketiga tumbuh 10,99 persen serta -2,32 persen dari sisi pembiayaan.

Kendati demikian, Hery menyadari bahwa penetrasi bank syariah di Indonesia masih sangat rendah dibandingkan dengan negara tetangga Malaysia yang mencapai angka 29 persen maupun negara di kawasan timur tengah seperti Saudi Arabia yang menembus angka 63 persen.

“Kalau kita bandingkan dengan negara-negara lainnya di akhir 2020 yang lalu masih sekitar 6,51 persen masih di bawah 7 persen,” ungkapnya.

Namun mengingat penduduk Muslim Indonesia yang mencapai 209,1 juta orang dan didukung sejumlah aspirasi yang telah disampaikan pemerintah untuk memperkuat peran industri keuangan syariah, pihaknya optimistis Bank Syariah Indonesia bisa sesegera mungkin memasuki jajaran 10 besar bank syariah dunia.

“Melalui penggabungan bank syariah himbara diharapkan tercipta neraca dan keuangan yang baik dengan target Rp272 triliun pembiayaan pada 2025 dan pendanaan Rp336 triliun pada 2025,” imbuhnya.

Hingga Desember 2020, Bank Syariah Indonesia berada pada posisi tujuh secara nasional dengan jumlah aset Rp240 triliun dan market share sebesar 2,6 persen.[]

Sumber: Antara