News

Konflik Cak Imin-Yenny Wahid Harus Dituntaskan, Pengamat: Jadi Seperti Borok!

Kekuasaan Cak Imin ini yang menyebabkan orang-orang PKB didepak dari NU


Konflik Cak Imin-Yenny Wahid Harus Dituntaskan, Pengamat: Jadi Seperti Borok!
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar menyapa wartawan sebelum melakukan pertemuan di Kertanegara, Jakarta, Sabtu (18/6/2022). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO, Konflik antara Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar alias Cak Imin dengan Zanuba Arifah Chafsoh (Yenny Wahid) yang secara terang-terangan saling sindir di media sosial mestinya harus diselesaikan secara internal.

Peneliti Senior Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro mengibaratkan perseteruan antara putri dan keponakan Gus Dur tersebut seperti Borok (luka) yang belum kering dan sewaktu-waktu bisa kembali rusak.

"Karena belum tuntas akhirnya jadi seperti borok, sehingga sewaktu-waktu bisa kumat. Itu yang mestinya bisa dituntaskan," kata Siti Zuhro di kawasan Jakarta Selatan, Jumat (24/6/2022).

baca juga:

Siti Zuhro mengatakan, Cak Imin bisa berkuasa dikarenakan dirinya merasa sebagai politisi ulung. Padahal, nama mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur hanya digunakan sebagai kampanye politik oleh PKB.

"Tapi yang the real berkuasa adalah Muhaimin karena dia adalah politisi ulung sehingga dia tidak akan mengajak Yenny. Termasuk Ali Masykur Musa juga tidak akan diajak," ucapnya.

Selain itu Siti Zuhro berpandangan, kekuasaan Cak Imin ini yang menyebabkan orang-orang PKB didepak dari NU. Selain itu termasuk juga faksi-faksi terjadi di Ormas.

Padahal, lanjut Siti Zuhro, PKB selalu mendominasi NU melalui Said Aqil Sirodj dan saat ini faksinya sudah berbeda lagi. Karenanya, Cak Imin jangan berharap mendapat dukungan penuh dari PBNU.

"Karena tentu NU ingin mengevaluasi keterlibatan di politik apakah menguntungkan atau tidak? Namun kelihatannya merugikan bagi NU. Jadi memang perlu ada suksesi yang betul-betul tidak seperti Said Aqil Sirodj," pungkasnya.[]