News

Konflik Berdarah Kolombia: 6 Tentara Tewas dalam Serangan Terbaru dari Pemberontak FARC

Konflik Berdarah Kolombia: 6 Tentara Tewas dalam Serangan Terbaru dari Pemberontak FARC
Kekerasan yang sudah berlangsung puluhan tahun kembali berkobar di Kolombia (EPA)

AKURAT.CO  Setidaknya enam tentara Kolombia terbunuh dalam pertempuran terbaru dengan kelompok pemberontak yang membangkang di wilayah barat daya Cauca yang dilanda kekerasan.

Laporan itu datang di tengah upaya pemerintah yang ingin segera mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Militer Kolombia mengonfirmasi kematian tersebut pada Selasa (6/11), mengatakan para tentara itu tewas selama bentrokan dengan para pembangkang dari Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC). 

baca juga:

FARC telah lama dikenal sebagai gerakan gerilya yang merupakan kelanjutan dari konflik bersenjata Kolombia sejak tahun 1964.  Kelompok pemberontak sayap kiri ini, pada tahun 2016 sempat menandatangani perjanjian damai dengan pemerintah Kolombia, mengakhiri perang selama setengah abad, dimana ratusan ribu orang telah tewas karenanya.

Namun, kesepakatan damai itu tidak serta merta langsung mematikan gerakan FARC. Kekerasan yang sudah berlangsung selama puluhan tahun pun kini kembali berkobar hingga dalam pertempuran terbaru, para tentara kembali jadi korban.

Presiden Gustavo Petro telah berusaha mengejar rencana 'perdamaian total' dengan anggota FARC yang tersisa di negaranya. Petro, dalam pernyataannya, mengkonfirmasi enam tentaranya yang tewas, mengatakan mereka berusia 18-20 tahun.

Para tentara itu, selama serangan, dihadapkan pada granat, alat peledak improvisasi, serta tembakan, menurut militer.

"Itu adalah operasi infiltrasi oleh salah satu faksi pembangkang utama, kata Petro.

Tiga personel militer juga tewas dibunuh oleh pembangkang FARC selama akhir pekan di daerah yang sama, di mana kelompok bersenjata tersebut terlibat dalam perdagangan narkoba dan kegiatan terlarang lainnya.

Konflik Berdarah Kolombia: 6 Tentara Tewas dalam Serangan Terbaru dari Pemberontak FARC - Foto 1
Presiden Kolombia Gustavo Petro, yang mengejar 'perdamaian total' untuk mengakhiri konflik puluhan tahun, mengatakan tentara yang tewas dalam serangan pembangkang FARC berusia 18-20 tahun-Luisa Gonzalez / Reuters

Para pembangkang itu, yang tetap menolak kesepakatan damai antara FARC dan pemerintah, mengatakan pada bulan September bahwa mereka bersedia bernegosiasi untuk meletakkan senjata.

Sejak Petro menjabat pada Agustus sebagai presiden sayap kiri pertama Kolombia, dia dan para pembantunya telah bertemu dengan para pemimpin dari dua faksi utama pembangkang FARC. Pertemuan ini digelar tidak lain demi tujuan pembicaraan damai. Bagaimanapun, para pejuang FARC yang bertahan masih banyak, dengan total mencapai hingga sekitar 5.200 orang, menurut think tank Indepaz.

"Sejauh ini, kami hanya berbicara tentang kemungkinan (gencatan senjata), tidak lebih," kata Petro pada Selasa, setelah pertemuan dengan petinggi pasukan keamanan Kolombia, menurut Al Jazeera.

Dalam beberapa tahun terakhir, kekerasan telah meningkat di Kolombia, terutama di beberapa bagian negara yang berada di luar kendali pemerintah.

Kekerasan yang terus  berlanjut di seluruh negeri pun telah membuat lebih dari 2,6 juta orang dibatasi pergerakannya sepanjang tahun ini. Laporan ini diungkap bulan lalu oleh Dewan Pengungsi Norwegia , mengutip angka dari kantor urusan kemanusiaan PBB (UN-OCHA).

Sebagai bagian dari rencana perdamaian Petro, Kolombia baru-baru juga memulai kembali negosiasi dengan Tentara Pembebasan Nasional (ELN). ELN saat ini menjadi kelompok pemberontak terbesar yang tersisa di negara Amerika Latin itu.

Pada akhir pekan, presiden mengumumkan bahwa pembicaraan tersebut, yang diadakan di negara tetangga Venezuela, telah mencapai kesepakatan untuk memungkinkan masyarakat adat Embera kembali ke wilayah asal mereka.

Anggota komunitas Embera selama ini harus melarikan diri akibat kekerasan antara geng narkoba, kelompok bersenjata sayap kanan yang dilarang, dan ELN. Banyak yang mencari perlindungan di ibukota Bogota, tempat mereka mengorganisir protes untuk menuntut perlindungan, perumahan, dan pekerjaan.

Pada Rabu, pemerintah Petro juga akan memulai upaya perdamaian di Buenaventura, sebuah kota pelabuhan Pasifik, di mana sekitar 1.600 pemuda bersenjata diyakini terlibat dalam perdagangan narkoba. []