News

Komunitas Kretek Tolak Rencana Cukai Rokok Naik: Lonceng Kematian Petani Tembakau hingga Konsumen

Komunitas Kretek Tolak Rencana Cukai Rokok Naik: Lonceng Kematian Petani Tembakau hingga Konsumen
Perlawanan komunitas pencinta kretek dirangkum lewat acara 'Tribute to Kretek' bersamaan dengan perayaan Hari Kretek Nasional, yang diperingati setiap 3 Oktober. (AKURAT.CO/Kumoro Damarjati)

AKURAT.CO Rencana pemerintah menaikkan cukai rokok pada 2023 mendatang mendapat perlawanan dari komunitas pencinta kretek.

Kenaikan cukai dinilai memberatkan masyarakat yang hidup dari ekosistem rokok. Perlawanan mereka dirangkum lewat acara 'Tribute to Kretek' bersamaan dengan perayaan Hari Kretek Nasional, yang diperingati setiap 3 Oktober.

Acara Tribute to Kretek ini sendiri diinisiasi Komunitas Kretek, Komite Nasional Pelestarian Kretek, dan Rokok Indonesia.

baca juga:

"Acara ini menjadi agenda perlawanan dari kretekus terhadap rencana kenaikan cukai rokok yang terus digaungkan oleh Kementerian Keuangan. Bagi kami, kenaikan cukai rokok hanya akan membawa petaka bagi Indonesia. Tidak hanya bagi para pemangku kepentingan, tetapi juga Indonesia secara keseluruhan," kata Panitia Tribute to Kretek, Aditia Purnomo.

Ketua Komunitas Kretek, Jibal Windiaz, melihat kenaikan cukai rokok sebagai sebuah upaya menambal keuangan negara. Namun di lain sisi menjadi lonceng kematian bagi para petani tembakau, petani cengkeh, buruh pabrik, serta juga konsumen rokok. 

"Karena kenaikan cukai yang diiringi kenaikan harga rokok berdampak secara struktural pada penghidupan masyarakat kretek Indonesia," ujarnya.

Dia berpendapat, jika cukai naik maka tembakau dan cengkeh yang ditanam para petani akan berkurang serapan atau pembeliannya. Jikapun dibeli, harganya akan anjlok atau buruk. 

Dia mencontohkan, tembakau berkualitas tinggi di Temanggung harganya anjlok karena rokok yang berputar di pasar adalah barang murah dengan kebutuhan tembakau kualitas rendah. Tembakau kualitas bagus tak lagi dibutuhkan jika cukai rokok melulu naik. 

"Anjloknya harga tembakau yang mengakibatkan para petani tembakau di Pamekasan marah, kami menilai hal ini sepenuhnya terjadi karena kebijakan cukai yang dilakukan pemerintah pusat, terutama Kementerian Keuangan beserta Menteri Keuangan Sri Mulyani," paparnya.