Lifestyle

Bun, Cita-cita Anak Itu Bisa Diobrolin Loh!

Orang tua perlu membuka ruang komunikasi untuk menemukan kekuatan karakteristik dari dalam atau inner strength sekaligus cita-citanya


Bun, Cita-cita Anak Itu Bisa Diobrolin Loh!
Ilustrasi ibu dan anak (dontmesswithmama.com)

AKURAT.CO, Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Richardus Eko Indrajit, mengatakan bahwa orangtua di rumah perlu membuka ruang komunikasi yang baik untuk mendukung anak menemukan kekuatan karakteristik dari dalam atau inner strength sekaligus cita-citanya.

"Untuk mengtahui potensi, pertama harus tahu cita-cita anak. Caranya adalah berkomunikasi dengan anak, tanya apakah cita-cita anak," ujar Richardus Eko Indrajit di acara Virtual Diskusi Panel Biskuat #GenerasiTiger, pada Senin, (27/9).

“Ketika komunikasi itu terjadi, anak-anak merasa disayang oleh orangtua, maka anak bakal menjawab cita-citanya dengan mata berbinar. Mata berbinar itulah tanda inner strength-nya keluar," sambung Eko. 

Menurut Eko, situasi pandemi membuka kesempatan para guru untuk mendiskusikan model pembelajaran yang tepat bersama dengan orangtua dan anak-anak, untuk menggali potensi dan menggapai cita-cita anak.

Sebab, pendidikan atau pembelajaran yang baik untuk anak-anak bermula dari lingkungan keluarga, baru kemudian didukung oleh tenaga pendidik di sekolah.

"Bayangkan, seorang guru di satu kelas bertemu 30 anak yang tidak memiliki hubungan darah dan hubungan emosionalnya. Baru saja terjadi saat baru masuk, Anda harapkan mereka bisa mendidik sebagaimana orangtuanya. Tentu saja, guru akan mengalami kesulitan,” imbuh Eko.

Oleh karena itu, Eko mengatakan, guru juga perlu mendapat dukungan penuh dari orangtua dan orangtua tidak boleh angkat tangan terhadap tanggungjawab pendidikan anak-anak.

Di kesempatan yang sama, Psikolog Anak sekaligus Ketua dari Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Kak Seto Mulyadi, mengatakan bahwa orangtua memiliki peran penting untuk memberi dorongan di dalam proses tumbuh kembang anak, sehingga rasa percaya diri terhadap potensinya terpupuk dengan baik dan inner strength juga dapat terbentuk.

Oleh karena itu, anak-anak harus diperlakukan sebagai subjek dan bukan objek semata, serta tidak perlu membanding-bandingkan dirinya dengan anak-anak lain sehingga di masa depan anak lebih cemerlang.

“Semua anak itu unggul, hebat dan cemerlang. Kita tidak bisa membandingkan siapa yang lebih hebat antara Einstein, Pablo Picasso, Mozart, Bethoven, Ronaldo, atau Michael Jackson, semuanya hebat pada bidangnya masing-masing,” sambung kak Seto.[]