News

Komunikasi Baru Saja Terhubung, Korut Kembali Abaikan Panggilan Hotline Korsel, Ada Apa? 

Komunikasi Baru Saja Terhubung, Korut Kembali Abaikan Panggilan Hotline Korsel, Ada Apa? 
Menteri Unifikasi Korea Selatan Lee In-young (kanan) mengunjungi hotline pada bulan September tahun lalu selama kunjungan ke sisi selatan desa perbatasan Panmunjom ( Park Tae-Hyun//AFP/Getty Images)

AKURAT.CO, Korea Utara (Korut) kembali mengabaikan panggilan telepon via 'hotline' dari tetangganya, Korea Selatan (Korsel). Sementara diketahui, baru beberapa minggu lalu, kedua negara telah memulihkan jalur hotline yang terputus.

Diwartakan BBC hingga Reuters, panggilan tak terjawab dari Korut terjadi beberapa jam setelah saudara perempuan Kim Jong-un, Kim Yo-jong, melayangkan kecamannya untuk Korsel. Diketahui, Yo-jong geram usai mengetahui Korsel melakukan latihan militer dengan sekutunya, Amerika Serikat (AS). 

Dalam pernyataannya, Yo-Jong menuduh Korsel 'berperilaku jahat' karena melanjutkan latihan militernya. Sementara Korut sudah setuju untuk memulihkan saluran hotline pada akhir Juli lalu.

baca juga:

Yo-jong juga mengklaim bahwa latihan itu akan membahayakan rakyat dan semakin membahayakan situasi di Semenanjung Korea. Yo-Jong pun menegaskan bahwa Korsel harus 'membayar harga' karena hal itu. 

"Mereka adalah ekspresi paling jelas dari kebijakan permusuhan AS terhadap (Korea Utara), yang dirancang untuk melumpuhkan negara kita dengan paksa. Agar perdamaian menetap di semenanjung, sangat penting bagi AS untuk menarik pasukan agresi dan perangkat perang yang dikerahkan ke Korsel," kata Yo-Jong dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita negara Korut, KCNA.

Korsel dan AS baru akan mengadakan latihan simulasi komputer minggu depan. Namun, menurut sumber-sumber Reuters, pelatihan pendahuluan sudah dimulai pada Selasa (10/8) waktu setempat.

Seorang juru bicara Departemen Pertahanan AS juga telah menolak mengomentari pernyataan Korut dan mengatakan itu bertentangan dengan kebijakan untuk mengomentari pelatihan.

"Acara gabungan pelatihan adalah keputusan bilateral ROK-AS, dan keputusan apa pun akan menjadi kesepakatan bersama," kata juru bicara Martin Meiners, menggunakan inisial nama resmi untuk Republik Korsel (ROK).

Baik Korsel maupun Korut, keduanya biasanya check-in melalui hotline dua kali sehari. Hotline ini sendiri dikelola oleh militer Korsel dan digunakan oleh kementerian unifikasi yang menangani hubungan dengan Korut. Pada Selasa pejabat Korut seperti biasa menjawab panggilan pagi di hotline tersebut. 

Namun, ketika Korsel menelepon pada sore harinya, panggilan itu tidak dijawab, kata kementerian unifikasi dan pertahanan.

Kementerian unifikasi Korsel mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka tidak akan berspekulasi tentang niat Korut. Namun, kementerian juga mengaku akan mempersiapkan segala kemungkinan untuk upaya pencegahan konflik.

Korut memotong jaringan hotline pada Juni 2020 ketika hubungan Pyongyang-Seoul memburuk setelah pertemuan puncak perdamaian yang gagal. Tak lama setelah itu, Korut meledakkan kantor perbatasan antar-Korea yang dibangun untuk meningkatkan komunikasi.

Namun, menurut pakar, reaksi Korut kali ini kemungkinan tidak akan sefatal dulu. Jika diamati dari retorika Yo-Jong, pakar pun menduga bahwa Korut hanya tengah berupaya mendapatkan keunggulan dalam pembicaraan di masa depan dengan Korsel dan AS.

"Meskipun (Kim Yo-Jong) menyebutkan 'perilaku durhaka', nada suaranya tampak relatif terkendali karena dia tidak mengancam tindakan spesifik yang mungkin mereka ambil, tidak seperti di masa lalu," terang Profesor Yang Moo-jin dari Universitas Studi Korut di Seoul. []