News

Komnas HAM Sebut Indikasi Obstruction of Justice dalam Kasus Tewasnya Brigadir J Makin Menguat

Komnas HAM Sebut Indikasi Obstruction of Justice dalam Kasus Tewasnya Brigadir J Makin Menguat
Komisioner Komnas HAM Choirul Anam. (AKURAT.CO/Bayu Primanda)

AKURAT.CO, Komisioner Komnas HAM Choirul Anam mengatakan indikasi upaya menghalang-halangi penegakan hukum di tempat kejadian perkara (TKP) atau Obstruction of justice semakin menguat.

Hal itu ia katakan usai tim Komnas HAM bersama Dokkes, Tim Labfor, dan Inafis Polri melakukan pemeriksaan di TKP pada Senin (15/8/2022) sore.

"Obstruction of Justice sejak awal kami bilang ada indikasi kuat. Ketika kami cek di TKP, indikasi itu semakin menguat,” ungkap Anam, Senin (15/8/2022).

baca juga:

Usai meninjau TKP, Komnas HAM menemukan sejumlah fakta yang berbeda terkait penyebab kematian Brigadir J. Kendati demikian, Komnas HAM belum bisa menjelaskan terkait temuan tersebut, lantaran harus didalami.

"Ke depannya mulai besok sampai minggu ini, kami Komnas HAM mau menyusun temuan-temuan kami, misal terkait obstruction of justice, terus apa saja terkait obstruction of justice tersebut, konstruksi peristiwanya kayak apa dan sebagainya," lanjut Choirul Anam.

"Minggu ini kami menyiapkan draft yang nantinya akan kami diskusikan secara mendalam di internal tim dan menyiapkan juga sejumlah rekomendasi yang dibutuhkan segera," jelasnya.

Diketahui, dalam kasus ini, Bharada E resmi ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tewasnya Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat. Selain Bharada E, Timsus juga menetapkan tiga tersangka lainnya yaitu Kuat Ma'ruf, Bripka Ricky Rizal, dan Ferdy Sambo.

Keempat tersangka dijerat Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana subsider Pasal 338 KUHP junto Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP. Mereka menghadapi ancaman maksimal hukuman mati atau penjara seumur hidup atau selama-lamanya 20 tahun.