News

Komnas HAM: Banyaknya Korban Tragedi Kanjuruhan Jadi Indikasi Pelanggaran HAM

Komnas HAM: Banyaknya Korban Tragedi Kanjuruhan Jadi Indikasi Pelanggaran HAM
Wakil Ketua Komnas HAM Munafrizal Manan ditemui di PN Yogyakarta, Kamis (6/10/2022) (akurat.co/Kumoro Damarjati)

AKURAT.CO, Komnas HAM menyebut adanya indikasi pelanggaran HAM dalam tragedi Kanjuruhan menimbang jumlah korban yang mencapai 130 jiwa lebih.

"Ada indikasi ke arah pelanggaran hak asasi manusia dengan jumlah korban meninggal sebanyak itu, dalam kondisi yang katakanlah itu bisa disebut panik ya," kata Wakil Ketua Komnas HAM Munafrizal Manan di Pengadilan Negeri Yogyakarta, Kamis (6/10/2022).

Munafrizal berujar, situasi kepanikan di berbagai penjuru stadion perlu ditelaah lebih dalam kaitannya dengan jatuhnya para korban. Perlu dipastikan ada tidaknya unsur kesengajaan atau pembiaran.

baca juga:

"Sekian banyak korban itu sudah jelas kan, tidak boleh dibiarkan mati. Kalau misalnya sekian banyak menjadi korban begitu kan ada perlu dipastikan apakah ada kesengajaan atau pembiaran," ungkapnya.

Penggunaan gas air mata oleh aparat yang banyak disebut memicu kepanikan juga menjadi salah satu elemen yang tak bisa diabaikan dan perlu digali lebih dalam oleh Komnas HAM.

Munafrizal menekankan saat ini Komnas HAM masih melangsungkan investigasi sejak mengerahkan timnya langsung ke Malang, Jawa Timur beberapa hari lalu. Meski tak ada durasi waktu kerja, namun pihaknya tetap berupaya secepat mungkin mencapai konklusi.  

"Tentu saja karena ini menyangkut sesuatu yang memprihatinkan, Komnas HAM bekerja secepatnya. Kita nggak mematok waktu, karena kan ini berkaitan dengan pengungkapan fakta yang harus akurat. Harus dicek kroscek, nanti akan dipaparkan kesimpulan akhir. Sekarang baru temuan sementara," pungkasnya.

Adapun peristiwa di Kanjuruhan bermula usai pertandingan Arema FC versus Persebaya dengan skor akhir 3-2 untuk Persebaya. Sejumlah suporter Arema atau Aremania kemudian masuk ke area lapangan, mereka mencari pemain dan ofisial.

Namun, peristiwa itu direspons polisi dengan tembakan gas air mata ke lapangan dan tribun stadion. Akibatnya, para penonton berlarian karena panik.

Mereka mengalami sesak napas dan terinjak-injak hingga meninggal dunia. Di antara korban meninggal ada pula anggota polisi.

Dinas Kesehatan Kabupaten Malang menyebut masih ada 59 korban luka-luka tragedi yang dirawat di sejumlah rumah sakit hingga, Kamis (6/10). Sementara itu, jumlah korban meninggal yaitu 131 orang.

Sejauh ini, polisi telah memeriksa 35 orang saksi dalam proses pengusutan tragedi tersebut. Kasus ini, telah naik ke tahap penyidikan, tetapi belum ada tersangka yang ditetapkan.

Selain itu, sebanyak 31 personel Polri juga tengah diperiksa terkait dugaan pelanggaran kode etik dalam proses pengamanan laga Arema FC vs Persebaya tersebut. []