Rahmah

Komitmen Jaga Persatuan, Kemenag Kenalkan Moderasi Beragama pada Dunia Islam

Kementerian Agama (Kemenag) terus melakukan usaha penguatan moderasi beragama.


Komitmen Jaga Persatuan, Kemenag Kenalkan Moderasi Beragama pada Dunia Islam
Menteri Agama (Menag) RI Yaqut Cholil Qoumas bersama Wakil Menteri Agama RI Zainut Tauhid Sa'adi saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi VIII di Nusantara II, Kompleks Parlemen MPR/DPR-DPD, Senayan, Jakarta, Senin (18/1/2021). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Kementerian Agama (Kemenag) terus melakukan usaha penguatan moderasi beragama. Hal itu tidak hanya dilakukan di dalam negeri, tetapi juga di dunia internasional. 

Melalui program prioritas Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, Kemenag mulai menawarkan kepada dunia Islam sebagai solusi membendung ektremisme dan terorisme.

“Untuk mengatasi dan membendung ekstremisme dalam beragama, Pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan penguatan moderasi beragama. Kebijakan ini bertujuan untuk memoderasi paham, sikap dan tindakan yang ekstrem dalam beragama, baik ekstrem kanan maupun kiri,” berikut pesan Menag yang disampaikan Staf Ahli Menteri Agama bidang Hukum dan HAM Abu Rokhmad dalam Konferensi Internasional yang diselenggarakan oleh The World Muslim Communities Council (al-Majlis al-‘Alami li al-Mujtama’at al-Muslimah) di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UAE), 8 - 9 Mei 2022.

baca juga:

Hadir juga dalam konferensi  yaitu sejumlah tokoh dan cendekiawan Muslim dari seluruh dunia. Adapun topik yang dibahas adalah Persatuan Islam: Konsep, Peluang dan Tantangan (Islamic Unity: Concepts, Opportunities and Challenges).

Saat membacakan sambutan Menag, Abu Rokhmad menjelaskan bahwa ada empat indikator penting dalam moderasi beragama. Diantaranya adalah bersikap toleran terhadap keragaman. Sementara tiga indikator lainnya adalah komitmen kebangsaan, anti-kekerasan dan ramah terhadap budaya lokal. 

“Melalui moderasi beragama, umat Islam di seluruh dunia dapat lebih mudah untuk mewujudkan persatuan Islam” terangnya.

“Untuk mewujudkan persatuan Islam, dibutuhkan kesadaran tentang keragaman (diversity) dan perbedaan di antara umat manusia” imbuhnya.

Sebagaimana diketahui, Konferensi ini dibuka oleh Menteri Toleransi dan Koeksistensi UAE Sheikh Nahyan bin Mubarak al-Nahyan. Mubarak al-Nahyan dalam sambutannya menekankan pentingnya berbagai kajian dan upaya dalam mewujudkan persatuan Islam di seluruh dunia.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua The World Muslim Communities Council Ali Rasyid al-Nuaimi selaku penyelenggara konferensi ini menyatakan, persatuan Islam merupakan hal terpenting yang mendominasi pikiran umat Islam sekarang ini. Pihaknya menyebut, pada awalnya, persatuan Islam di era modern merupakan isu intelektual yang menginspirasi dunia Islam untuk melepaskan diri dari kolonialisme.

“Pasca kolonialisme, dunia Islam mengalami berbagai perubahan mendasar dalam bidang sosial, politik dan juga intelektual serta lahirnya partai-partai politik yang mengadopsi Islam, membuat konsep persatuan Islam menjadi tidak begitu jelas lagi. Konferensi ini akan membahas realitas persatuan Islam dari berbagai sudut beserta seluruh tantangan yang dihadapinya” jelasnya. []