News

KLHK NTT Sita Ratusan Daging Rusa Ilegal di Labuan Bajo

300 kilogram daging rusa ilegal disita KLHK di labuan bajo


KLHK NTT Sita Ratusan Daging Rusa Ilegal di Labuan Bajo
Seekor komodo melintas di dekat warga yang tengah beraktivitas di Pulau Rinca, Kawasan Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur, Minggu (14/10/2018). Pulau Rinca selain terkenal dengan komodonya yang termasuk dalam 7 keajaiban dunia, juga memiliki pemandangan dengan bentang alam yang indah memikat wisatawan dengan tingkat kunjungan dari Januari hingga September 2018 mencapai 100 ribuan pengunjung. (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)

AKURAT.CO, 300 kilogram daging rusa di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur disita Direktorat Jenderal Penegakkan Hukum (Gakkum) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Daging tersebut hendak dikirim secara ilegal ke Bima, Nusa Tenggara Barat.

"300 kg daging rusa yang ditahan ini setara dengan 30 ekor rusa yang diduga berasal dari Taman Nasional Komodo," Kata Kepala Balai Gakkum KLHK Wilayah Jawa-Bali-Nusa Tenggara, M Nur di Kupang, Minggu, (27/12/2020).

Ratusan kilo daging rusa itu disita pada Senin (7/12) saat hendak dibawa dari Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Pulau Flores, menuju Bima, Nusa Tenggara Barat yang merupakan wilayah tetangga.

Ia menjelaskan penyitaan berawal dari kecurigaan tim operasi gabungan ketika Hari Raya Natal dan Tahun Baru dari Balai Gakkum KLHK Jabalnusra ketika mengetahui adanya pengiriman daging yang dibungkus dalam 7 dus.

Tim operasi gabungan kemudian menghubungi penyidik Pos Gakkum KLHK Labuan Bajo untuk memeriksa dan menyidiknya.

Dari hasil penyidikan ditetapkan seorang tersangka yang diduga melanggar Pasal 21 Ayat 2 Huruf d Jo. Pasal 40 Ayat 2 Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, dengan ancaman hukum penjara maksimal 5 tahun dan denda maksimal Rp100 juta.

Barang bukti berupa 300 kg daging rusa, 1 mobil pick up, beserta STNK, 1 ponsel beserta kartu SIM, diamankan dan dititipkan di Kepolisian Resor Manggarai Barat untuk penyidikan lebih lanjut.

Nur menambahkan, pihaknya menduga daging rusa tersebut hasil perburuan di kawasan Taman Nasional Komodo karena populasinya lebih banyak di kawasan pariwisata unggulan itu.

"Kami akan mengembangkan penyidikan kasus ini untuk mencari tahu siapa pemodal dari perburuan satwa yang dilindungi tersebut," tegasnya.

Sumber: Antara