Tech

KLHK: Indonesia Jadi Sasaran Vendor Teknologi Pengolahan Sampah


KLHK: Indonesia Jadi Sasaran Vendor Teknologi Pengolahan Sampah
Kasubdit Barang dan Kemasan, Direktorat Pengelolaan Sampah Kementerian Hidup dan Kehutanan, Ujang Solihin Sidik (kiri), bersama Penerima Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Persiapan Keberangkatan-148 Arka Bhumi, M. Fathan Nautika (kanan), Workshop Nasional Keterancaman Keanekaragaman Hayati, Sabtu (30/11/2019), di Gedung LIPI Bogor, Jawa Barat. (AKURAT.CO/Tria Sutrisna)

AKURAT.CO, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut Indonesia tengah menjadi sasaran teknologi pengelolaan sampah. Hal tersebut menyusul tingginya polusi plastik yang menjadi salah satu masalah di Tanah Air.

"Soal teknologi Indonesia sekarang jadi sasaran, sasaran pihak-pihak untuk jualan teknologi," ujar Kasubdit Barang dan Kemasan, Direktorat Pengelolaan Sampah KLHK, Ujang Solihin Sidik dalam workshop nasional Keterancaman

Keanekaragaman Hayati Sabtu (30/11/2019), di Gedung Widyasatwaloka LIPI, Bogor, Jawa Barat.

Menurutnya, yang mendorong isu sampah plastik di Indonesia ialah para pemilik atau vendor teknologi. Dia mencontohkan salah satu yang segera diterapkan ialah pengelolaan sampah untuk mengambil hawa panasnya dan dijadikan energi listrik.

Tempat pengolahan sampah tersebut digadang-gadang akan memiliki kapasitas sekitar 2.200 ton perhari.

"Ini kelihatannya DKI Jakarta mungkin yang pertama menerapkan, rencananya 2021," ungkapnya.

Kendati demikian, teknologi pengolahan tersebut terbilang mahal. Dia pun menilai penerapannya kemungkinan hanya bisa dilakukan di wilayah pusat atau kota-kota besar, dan sulit untuk dilakukan di daerah.

Hal tersebut tidak terlepas dari besarnya nilai investasi dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang berbeda besarannya di setiap wilayah.

"Karena apa investasinya untuk kapasitas 1.000 ton perhari itu bisa setengah triliun (Rp500 miliar)," kata Ujang.

Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Atit Kanti mengatakan limbah plastik adalah salah satu permasalahan yang mencolok.

Mengutip data World Bank 2018, lanjut dia, sebanyak 87 kota pesisir di Indonesia menyumbang 1,27 juta ton sampah ke laut, dengan komposisi sampah plastik 9 jutan ton, dan sekitar 3,2 juta ton adalah sedotan plastik.