Ekonomi

Klaim Bebas dari Lilitan Krisis Ekonomi, Analis Barat: Datanya Manipulatif!

Banyak analis dari Barat percaya kenaikan Rubel berkat kontrol media dan kontrol negara


Klaim Bebas dari Lilitan Krisis Ekonomi, Analis Barat: Datanya Manipulatif!
Presiden Rusia Vladimir Putin Bersama Dengan Gubernur Bank Sentral Rusia Elvira Nabiullina. (SPUTNIK)

AKURAT.CO, Rusia mulai mengaku bila mereka sudah berhasil lepas dari krisis keuangan bila dilihat dari nilai mata uang yang sudah menguat dan data ekonomi membaik. Namun, para ahli mengatakan angka tersebut tak sesuai dengan fakta yang terjadi Rusia.

Seperti dikutip dari CNBC, Kamis (19/5/2022), klaim Rusia menyebut bahwa meski inflasi negara tersebut sedang memanas, ada tanda-tanda kenaikan harga akan melambat dan terus berlanjut. Sementara, mata uang Rusia rubel yang berada di titik terendah sepanjang masa di bulan Maret menjadi mata uang terbaik di dunia tahun ini.

Pihak pemerintahan Rusia juga mengklaim bahwa indikator kegiatan ekonomi membaik yang ditandai berhasilnya negara beruang merah itu untuk menghindari gagal bayar utang mata uang asingnya di tengah sanksi Barat yang telah membekukan sebagian besar simpanan keuangan negara tersebut.

baca juga:

Inflasi Rusia mencapai tertinggi dua dekade 17,8 persen tahun-ke-tahun di bulan April, naik dari 16,7 persen di bulan Maret. Tetapi kenaikan angka tersebut seperti mulai menunjukkan tanda-tanda melambat.

Pertumbuhan harga konsumen juga melambat tajam dari 7,6 persen di bulan Maret menjadi 1,6 persen  di bulan April, dan harga barang non makanan naik hanya 0,5 persen, dibandingkan 11,3 persen di bulan Maret.

Para penggiat pasar juga turut mendukung Central Bank of Russia (CBR) atau Bank Sentral Rusia agar terus mengurangi kenaikan suku bunga darurat, dengan rencana pemotongan 200 basis poin pada bulan Juni. Hal ini terjadi karena sebelumnya Bank Sentral Rusia menerapkan kenaikan suku bunga darurat dari 9,5 persen menjadi 20 persen pada akhir Februari, beberapa hari setelah invasi Rusia ke Ukraina dalam upaya untuk menyelamatkan rubel.

Bank sentral sejak itu dapat menggeser suku bunga menjadi 14 persen karena prospek inflasi dan mata uang membaik.

"Angka (inflasi) hari ini akan lebih mendukung penilaian bank sentral bahwa fase akut krisis Rusia telah berlalu," tulis Ekonom Pasar Berkembang Liam Peach dalam sebuah catatan pekan lalu.

Dolar turun sekitar 17 persen terhadap rubel Rusia. Langkah-langkah kontrol modal yang ketat termasuk meminta perusahaan untuk mengubah 80% pendapatan uang asing menjadi rubel telah membangkitkan mata uang terpuruk. Rusia juga awalnya melarang warganya mentransfer uang ke luar negeri hingga dibatasi US$10.000 per bulan hingga akhir 2022.

Sumber: CNBC