Rahmah

Kisah Ummu Aiman Sang Pengasuh Rasulullah

Rasulullah memanggil Ummu Aiman dengan panggilan “Wahai ibu"


Kisah Ummu Aiman Sang Pengasuh Rasulullah
Ilustrasi wanita muslimah (pixabay.com/mohamed_hassan)

AKURAT.CO Salah satu tokoh perempuan mulia pada zaman Rasulullah adalah Ummu Aiman. Memiliki nama asli Barakah binti Tsa’labah bin Amr bin Hishn, julukannya diambil dari nama putranya yaitu Aiman bin Ubaid, kendati putranya yang termasyhur dan termasuk sahabat Nabi utama adalah Usamah bin Zaid.

Ummu Aiman sendiri termasuk kelompok yang pertama-tama memeluk Islam. Juga turut hijrah sebanyak dua kali, yaitu saat ke Habasyah dan ke Madinah. Dengan demikian ia memiliki kedudukan mulia dalam Islam.

Di antara peristiwa menarik tantang kebersamaan Rasulullah SAW dengan Ummu Aiman adalah ketika salah satu putri Rasulullah akan wafat. Rasulullah mendekap sang putri di dadanya dengan penuh kasih. Kemudian beliau letakkan tangannya pada putrinya. Sehingga ia wadat dalam pelukan Nabi mulia.

baca juga:

Ummu Aiman yang menyaksikan itu menangis haru. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bertanya, “Wahai Ummu Aiman, apakah kau menangis padahal Rasulullah ada di sisimu?” Ummu Aiman menjawab, “Bagaimana bisa aku tidak menangis sedangkan Rasulullah menangis.”

Rasulullah mengatakan, “Sungguh aku menangis (bukan karena musibah) tapi ini adalah kasih sayang.” Beliau melanjutkan, “Setiap saat seorang mukmin dalam kondisi yang baik. Nyawanya terpisah dari badannya sedang dia memuji Allah.”

Rasulullah memanggil Ummu Aiman dengan panggilan “Wahai ibu”.  Saat memandang Ummu Aiman, Nabi berkata, “Ini adalah bagian dari keluargaku.” Rasulullah sudah menganggapnya seperti ibu sendiri karena ia pernah mengasuh Nabi Muhammad sewaktu kecil.

Salah satu petuah yang pernah disampaikan Ummu Aiman adalah sebagai berikut,

ما رأيت رسول الله شكا صغيرًا ولا كبيرًا جوعًا ولا عطشًا، كان يغدو فيشرب من ماء زمزم، فأعرض عليه الغداء فيقول: لا أريده أنا شبع

Artinya, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah mengeluhkan yang sedikit atau banyak. Saat lapar maupun kenyang. Beliau melewati pagi harinya dengan meminum air zam-zam. Kemudian ditawarkan makanan, beliau berkata, ‘Aku tidak menginginkannya. Aku kenyang.’”

Saat terbunuhnya Umar bin Khattab, Ummu Aiman berkomentar, “Hari ini, Islam menjadi lemah.”

Sumber: Kisahmuslim