Lifestyle

Kisah Umar bin Khattab Sang Singa Padang Pasir: Garang Terhadap Musuh, Lembut Kepada Istri


Kisah Umar bin Khattab Sang Singa Padang Pasir: Garang Terhadap Musuh, Lembut Kepada Istri
Kisah Umar bin Khattab (visualizepicture.com)

AKURAT.CO, Nama Umar bin Khattab menjadi momok menakutkan bagi musuh-musuh Islam saat itu. Bahkan, tidak hanya dari golongan manusia, golongan setan juga lari terbirit-birit jika melihat Umar atau sekadar mendengar namanya.

Hal ini sesuai dengan hadis Nabi yang diriwayatkan Tirmidzi. “Sesungguhnya setan benar-benar takut padamu wahai, Umar. Tatkala aku duduk budak wanita itu memukul rebana, lalu masuk Abu Bakar, Ali dan Utsman, dia masih memukul rebana, tatkala dirimu yang datang budak wanita itu melemparkan rebananya.”

Dalam hadis lain disebutkan, “Wahai Ibnul al-Khaththab, demi Allah yang jiwaku berada dalam genggaman tanganNya, sesungguhnya tidaklah setan menemuimu sedang berjalan di suatu jalan kecuali dia akan mencari jalan lain yang tidak engkau lalui.”

baca juga:

Sedangkan dalam hadis lain, Rasulullah saw pernah bersabda, “Sungguh aku melihat setan dari kalangan manusia dan jin lari dari Umar.”

Keberanian Umar bin Khattab membuat musuh Islam tidak berkutik.

Sebelum masuk Islam, pemilik nama asli Abu Hafsh Umar al-Faruq bin Khattab ini sudah ditakuti oleh banyak pihak. Badannya yang tinggi besar serta karakternya yang tegas dan pemberani, membuat siapapun dibuat bertekuk lutut saat berhadapan dengannya.

Umar kemudian dinilai oleh Nabi Muhammad sebagai kekuatan tersendiri jika ia masuk Islam. Bahkan, Rasulullah pernah berdoa secara khusus agar Umar masuk Islam. Dalam satu riwayat, Nabi Muhammad berdoa, “Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dua orang yang lebih Engkau cintai: Umar bin Khattab atau Abu Jahal bin Hisyam."

Doa Nabi Muhammad pun kemudian dikabulkan, dengan masuknya Umar bin Khattab ke barisan umat Islam dan menjadi salah satu Sahabat Nabi paling setia.

Dengan masuknya Umar sebagai muslim, dakwah Nabi Muhammad pun semakin memiliki kekuatan. Keberanian, ketegasan, dan kegarangan Umar menjadi salah satu senjata andalan dalam perjalanan dakwah Nabi. Hingga ia dijuluki sebagai Asadullah atau singa padang pasir.

Keberanian Umar juga dibuktikan dengan suatu peristiwa yang membuat umat muslim saat itu ketar-ketir. Bagaimana tidak, di saat Rasulullah bersembunyi-sembunyi saat hijrah dari Makkah ke Madinah, Umar justru mengumumkannya di depan Kakbah.

“Barang siapa yang ingin anaknya menjadi yatim, istrinya menjadi janda dan orang tuanya tak lagi memiliki anak, silakan temui aku di lembah belakang kota Mekkah!” teriak Umar menantang seluruh orang kafir Quraisy. Namun, tidak ada yang berani melayani tantangannya.

Lemah Lembut Terhadap Istri

Menariknya, meskipun Umar dikenal garang terhadap musuh-musuh Islam, hingga ditakuti golongan manusia dan jin, di depan istrinya, Umar berperilaku sangat lemah lembut.

Sebuah kisah yang dituliskan oleh ulama besar asal Indonesia, Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitabnya yang berjudul U'qud al-Jain menceritakan, bagaimana Umar memperlakukan istrinya dengan sangat lembut.

Dikisahkan ada seorang sahabat yang ingin berkunjung ke rumah Umar untuk berkonsultasi lantaran ia kerap mendapatkan diomeli sang istri.

Tepat berada di depan pintu rumah Umar, ia dikejutkan dengan suara keras istri Umar yang sedang marah.

Sahabat tersebut pun urung mengetuk pintu. Ia tidak mendengar ada suara Umar di dalam rumah tersebut. Ia pun bermaksud untuk kembali ke rumahnya. Sambil bergegas pergi ia berkata dalam hati, "Kalau seorang khalifah saja hanya terdiam saat dimarahi istri, bagaimana denganku?"

Namun baru beberapa langkah, Umar terlihat membuka pintu dan keluar dari rumahnya. Umar pun memanggil sahabat yang hendak berkunjung ke rumahnya itu.

Saat mereka berdua sudah duduk bersama, Umar pun bertanya akan maksud kedatangan sahabat tersebut, "Saudara ada keperluan apa datang ke rumahku?"

Sahabat pun menceritakan tujuan awalnya. Ia bermaksud ingin berkonsultasi persoalan dengan istrinya. Namun setelah mengetahui jika Umar pun sedang ada masalah dalam keluarganya, ia mengurungkan niatnya. Sahabat itu mempertanyakan sikap Umar yang hanya terdiam saat sang istri memarahinya.

Mendengar pertanyaan tersebut, Umar hanya tersenyum. Menurutnya, ia tidak berhak membalas kemarahan sang istri. Seorang istri sudah bekerja, memasak, mencuci baju, mengasuh anak-anaknya, serta melayani segala kebutuhan dalam keluarganya, maka tidak pantas ia memarahinya.

"Aku cukup tenteram tidak melakukan perkara haram lantaran pelayanan istriku. Karena itu, aku menerimanya sekalipun dimarahi," kata Umar.

Mendengar penjelasan seperti itu, sahabat tersebut pun bertanya, apakah hal itu juga yang harus ia lakukan kepada istrinya? Umar menjawab, "Ya, terimalah marahnya. Karena yang dilakukan istrimu tidak akan lama, hanya sebentar saja."

Sebagai seorang sahabat Nabi sekaligus khalifah, Umar sangat memuliakan peran wanita. Sebuah teladan yang baik untuk kita semua. []