News

Kisah Pilot Afganistan yang Hamil Terdampar di Tajikistan: Kami seperti Tahanan di Sini

Dia melarikan diri demi hidup diri dan anaknya yang masih dalam kandungan.


Kisah Pilot Afganistan yang Hamil Terdampar di Tajikistan: Kami seperti Tahanan di Sini
Seorang pilot Afganistan di bawah pelatihan AS yang tengah hamil, terjebak di sanatorium Tajikistan. Gambar diambil 5 Oktober 2021. (REUTERS )

AKURAT.CO, Seorang pilot Afganistan yang dilatih Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu dari rombongan yang meninggalkan negaranya dengan pesawat Angkatan Udara selama pengambilalihan Taliban. Dia melarikan diri demi hidup diri dan anaknya yang masih dalam kandungan.

Kini dia mengkhawatirkan bayinya akan segera lahir di pedesaan Tajikistan tempat penampungan sementaranya saat ini. Meninggalkan Afganistan bersama lebih dari 140 personel militer lainnya yang hampir semuanya laki-laki, dia saat ini menempati sebuah sanatorium (tempat perawatan) yang berada di area pegunungan.

Namun pilot yang mahir berbahasa Inggris itu mengatakan dia khawatir petugas medis di sanatorium, yang terletak di luar ibu kota Dushanbe, tidak memenuhi syarat untuk menangani kehamilan.

"Saya benar-benar khawatir tentang bayi saya," katanya, berbicara pada Reuters melalui telepon yang disembunyikan dari penjaga, setelah pihak berwenang Tajikistan mengambil dokumen identifikasi dan telepon para warga Afganistan. 

Dia meminta untuk tetap anonim karena ketakutan akan keselamatan keluarganya yang masih tertinggal di Afganistan.

Dia mengaku pihak berwenang Tajikistan telah menolak permintaannya untuk segera dipindahkan ke lokasi yang lebih dekat dengan rumah sakit. Padahal, tanggal perkiraan kelahirannya jatuh pada pertengahan November.

"Mereka berkata: 'Tidak. Ketika waktu melahirkan Anda tiba, kami akan membawa Anda ke rumah sakit dan membawa Anda kembali ke sini'," katanya.

Terjebak di Tajikistan selama hampir dua bulan, ia dan sesama warga Afganistan lain berharap dijemput otoritas AS dan mendapat status pengungsi. Tetapi, itu tampaknya belum akan terjadi dalam waktu dekat. Mereka mengatakan pihak berwenang Tajikistan terus menyuruh mereka menunggu.

"Kami seperti tahanan di sini. Bahkan tidak seperti pengungsi, bahkan tidak seperti imigran. Kami tidak memiliki dokumen hukum atau cara untuk membeli sesuatu untuk diri kami sendiri," katanya.

Untungnya, suami sang pilot, yang bekerja di instansi pemerintah yang didukung AS di Kabul, berhasil dievakuasi bersamanya.

Mendengar laporan bahwa sebuah organisasi internasional akan segera menurunkan bantuan pakaian musim dingin untuk warga di sanatorium serta banyak kebutuhan bayi, dia merasa lega bercampur waswas. Itu artinya dia perlu bersiap untuk tinggal lebih lama di Tajikistan.

"Mereka menyediakan pakaian dan banyak hal, jadi itu berarti kita akan tinggal di sini," katanya, menambahkan dengan nada pasrah, "Saya tidak tahu tentang masa depan". []