Rahmah

Kisah Penyesalan Anas bin Nadhar yang Berbuah Manis di Perang Uhud

Anas bin Nadhar pernah menyesal karena telah tertinggal di Perang Badar.


Kisah Penyesalan Anas bin Nadhar yang Berbuah Manis di Perang Uhud
Ilustrasi Sahabat Nabi (orami)

AKURAT.CO Salah seorang sahabat Anshar yang merupakan paman dari Anas bin Malik (Sahabat Nabi SAW yang telah banyak meriwayatkan hadits) adalah Anas bin Nadhar. Pada awalnya, Anas bin Nadhar menyangka bahwa pasukan yang dibawa Rasulullah SAW hanya bermaksud untuk mencegat kalifah dagang Quraisy. 

Akan tetapi dugaannya itu salah. Para pasukan Muslim justru bergegas menuju peperangan Badar. Dengan demikian, Anas tertinggal dan tidak ikut serta pada perang tersebut.

Atas kejadian tersebut, Anas sangat menyesalinya. Hingga pada sebuah kesempatan, ia berkata kepada Rasulullah SAW, "Wahai Rasulullah, aku tidak ikut dalam permulaan perang melawan orang-orang musyrik. Sungguh, kalau Allah mengikutkan aku memerangi orang-orang musyrik, niscaya Allah akan mengetahui apa yang aku perbuat."

Ketika dalam peperang Uhud, terjadi sebuah peristiwa genting yang mengkhawatirkan. Kala itu, pasukan Muslimin berbalik mengalami kekalahan. Anas bin Nadhar melewati beberapa pasukan Muslim yang kehilangan semangatnya karena mendengar jika Rasulullah SAW telah wafat terbunuh. 

Para pasukan Muslim itu meletakkan senjatanya di tanah dengan wajah dipenuhi kesedihan. Melihat keadaan itu, Anas berkata, "Wahai kalian…Jika Nabi SAW memang telah wafat terbunuh, maka Allah SWT, Tuhannya Muhammad tidak akan pernah mati, lalu apa yang bisa kalian kerjakan dalam hidup ini jika beliau telah wafat? Berperanglah kalian demi sesuatu yang Nabi SAW berperang untuknya…dan matilah kalian demi sesuatu yang beliau wafat karenanya…"

Setelah mengucap kalimat tersebut, ia berdoa, "Ya Allah, aku memohonkan ampunan kepadaMu atas apa yang mereka (kaum muslimin) lakukan, dan aku berlepas diri dan berlindung kepadaMu dari apa yang mereka (orang-orang musyrik) lakukan!"

Sehingga, ia turun ke medan pertempuran untuk meneruskan jihadnya. Dalam sebuah kesempatan, ia sempat bertemu Sa'd bin Mu'adz yang bertanya kepadanya, “Mau kemana engkau, wahai Abu Umar?"

Anas berkata, "Wahai Sa'd, sungguh aku mencium bau surga di balik Bukit Uhud ini."

Disebutkan bahwa Anas bertempur dengan perkasa menerjang barisan musuh. Meskipun jumlah musuh yang mencapai ratusan orang, namun tidak membuatnya gentar sedikitpun. Hingga akhirnya Anas menemui syahidnya. 

Setelah peperangan berakhir, orang-orang disekitarnya tidak ada yang mengenali jasad Anas. Kemudian ada salah seorang wanita bernama Bisyamah yang merupakan bibi dari seorang Anas, mengetahui ciri-ciri khusus dari seorang Anas.

Diketahui, tidak kurang dari delapan puluh luka mengkoyak-koyak tubuhnya, tusukan tombak, hunjaman anak panah dan juga luka sayatan pedang yang ada di wajah dan tubuhnya, sehingga Anas susah untuk dikenali oleh sahabat yang lain. Subhanallah. []