Rahmah

Kisah Mundzir bin Amr, Sahabat Penghafal Al-Qur'an yang Miliki Jiwa Kesatria 

Mundzir bin Amr merupakan salah satu dari tujuh puluh sahabat Huffadz Qur'an yang dikirimkan Rasulullah SAW untuk mendakwahkan Islam kepada penduduk Najd.


Kisah Mundzir bin Amr, Sahabat Penghafal Al-Qur'an yang Miliki Jiwa Kesatria 
Ilustrasi Sahabat Nabi (orami)

AKURAT.CO Salah satu dari tujuh puluh sahabat Huffadz Qur'an yang dikirimkan Rasulullah SAW untuk mendakwahkan Islam kepada penduduk Najd dan sekitarnya adalah Mundzir bin Uqbah bin Amr. Saat itu, Mundzir bin Amr menetapkan untuk berhenti di Bi’r Ma’unah. Mundzir bin Amr ditugaskan menggembalakan unta-unta bersama Amr bin Umayyah adh Dhamry.

Diketahui bahwa sebenarnya mereka berdua telah lolos dari pembantaian yang dilakukan oleh Amir bin Thufail terhadap sahabat-sahabat penghafal Al-Qur'an yang lain. Kemudian, dari tempat penggembalaannya itu, mereka berdua melihat burung pemakan bangkai yang melayang-layang di udara tepat di atas perkemahannya.

Salah seorang lalu berkata, "Sesuatu yang buruk telah terjadi, mari kita kembali ke perkemahan menemui teman-teman kita…"

Akhirnya, mereka memutuskan untuk bergegas kembali. Sementara dari kejauhan terlihat para sahabat telah terkapar tak bernyawa dan dikelilingi para pembunuh yang pedangnya masih meneteskan darah. Langkah merekapun akhirnya terhenti. 

Atas hal itu, Amr mengajak kembali ke Madinah untuk mengabarkan peristiwa tersebut. Akan tetapi, Mundzir tidak setuju, dan ia berkata, "Cepat atau lambat, berita ini akan sampai juga kepada Rasulullah SAW, aku tidak rela meninggalkan sahabat kita terbaring nyenyak dalam keadaan ‘nyaman’, tanpa kita berjuang dan syahid bersama mereka, ayolah Amr! Kita maju dan berjuang menyusul mereka yang telah syahid.."

Dengan begitu, Amr menyambut ajakan Mundzir, di mana mereka berdua menyerang para pembunuh kejam tersebut sehingga terjadi pertempuran hebat yang tidak berimbang. Sehingga Mundzir gugur sebagai syahid, sedangkan Amr ditawan oleh musuh. 

Rasulullah SAW pernah bersabda di dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, 

"Orang yang mati syahid memperoleh enam keistimewaan di sisi Allah, Yaitu: Diampuni ketika tetesan darah pertamanya jatuh dan langsung melihat surga tempat tinggalnya seketika itu, dia dilindungi dari siksa kubur, dia aman dari ketakutan yang paling besar, dikenakan padanya pakaian keimanan, dia dinikahkan dengan bidadari, dan dia diizinkan untuk memberi syafaat kepada tujuh puluh orang kerabatnya." (HR Ahmad). Wallahu A'lam Bishawab. []