Tech

Kisah Moorissa Tjokro, Insinyur Muda Indonesia di Balik Fitur Autopilot Tesla

Moorisa Tjokro mengaku terinspirasi dari sang ayah


Kisah Moorissa Tjokro, Insinyur Muda Indonesia di Balik Fitur Autopilot Tesla
Moorissa Tjokro adalah satu-satunya wanita asal Indonesia dibalik pengembangan mobil swakemudi Tesla (Facebook/Georgia Tech)

AKURAT.CO, Sebuah notifikasi surel muncul secara tiba-tiba di kotak masuk akun e-mail milik Moorisa Tjokro, seorang wanita muda asal Indonesia yang ketika itu sedang menuju akhir dari perjalanan studinya di Columbia University di jurusan Data Science dengan gelar magister. Setelah membaca selama beberapa menit, ternyata surat elektronik tersebut berasal dari salah satu perusahaan mobil listrik raksasa dunia, Tesla.

“Sekitar dua tahun yang lalu, temanku sebenarnya intern (magang) di Tesla. Dan waktu itu dia sempat ngirimin resume-ku ke timnya. Dari situ, aku tu sebenarnya enggak pernah apply, jadi langsung dikontak sama Tesla-nya sendiri. Dan dari situlah kita mulai proses interview,” kenangnya.

Dari situlah perjalanan wanita kelahiran tahun 1994 ini menjadi salah satu garda terdepan dalam pengembangan mobil swakemudi Tesla dimulai. Setelah melalui serangkaian proses wawancara, akhirnya Moorisa resmi menjadi salah satu karyawan Tesla pada Desember 2018 silam sebagai seorang Data Scientist, sebelum akhirnya kini dirinya dipercaya sebagai Autopilot Software Engineer.

Kisah Moorissa Tjokro, Insinyur Muda Indonesia di Balik Fitur Autopilot Tesla - Foto 1
moorissatjokro.com

Kecintaan Moorisa akan dunia STEM (Sains, Teknologi, Teknik/Engineering, Matematika) memang tidak perlu diragukan lagi. Sejak kecil, ia begitu dekat dengan dunia matematika. Bahkan, dalam sebuah wawancara, ia mengaku sangat menyukai pelajaran tersebut, salah satunya adalah aljabar.

Lebih dari itu, Moorisa benar-benar jatuh cinta begitu dalam dengan dunia sains karena terinspirasi dari sang ayah.

“Tapi sebenarnya yang bikin aku benar-benar tertarik untuk ke dunia ini adalah ayahku, karena aku benar-benar, (beranjak dewasa melihat Ayah sebagai inspirasi terbesar dalam hidupku). Dia seorang insinyur elektrik dan entrepreneur, dan aku bisa ngeliat kalau teknik-teknik insinyur, itu benar-benar fun, penuh tantangan, dan itu aku suka,” ceritanya.

Kisah Moorissa Tjokro, Insinyur Muda Indonesia di Balik Fitur Autopilot Tesla - Foto 2
Moorissa Tjokro via VOA Indonesia

Dorongan dan dukungan keluarga, terutama dari sang ayah, membuat wanita berusia 26 tahun ini tumbuh begitu dekat dengan sains. Hingga akhirnya, rasa cinta yang begitu dalam tersebut mengantarkan Moorisa mendapatkan beasiswa Wilson and Shannon Technology untuk menempuh studi di Seattle Central College ketika usianya baru menginjak 16 tahun pada tahun 2011 silam.

Petualangan baru tersebut pun sempat tertunda karena persyaratan umur minimal untuk menemph kuliah di universitas di Amerika Serikat adalah 18 tahun. Akhirnya, ia pun memilih untuk mendapatkan gelar Associate Degree atau D3 di bidang sains pada tahun 2012. Setelah itu, baru dirinya melanjutkan kuliah S1 di Teknik Industri dan Statistik di Georgia Institue of Technology di Atlanta, AS.

Perjalanan studi tersebut akhirnya selesai ketika ia baru berusia 19 tahun. Bahkan, Moorise didapuk sebagai salah satu lulusan termuda yang berhasil mendapatkan predikat Summa Cum Laude.