Rahmah

Kisah Khalifah Umar bin Khattab Mencari Keadilan dalam Kasus Sengketa Kuda 

Suatu hari, Umar bin Khattab sedang membutuhkan seekor kuda untuk ditunggangi. Ia lalu bergegas menuju pasar dan menemui seorang Badui yang menjual kuda.


Kisah Khalifah Umar bin Khattab Mencari Keadilan dalam Kasus Sengketa Kuda 
Kisah Umar bin Khattab (visualizepicture.com)

AKURAT.CO  Umar bin Khattab merupakan sahabat yang pertama kali diberi gelar Amirul Mukminin. Sebagai pemimpin, Umar juga termasuk seorang yang peduli dengan kesejahteraan rakyatnya.

Dikisahkan pada suatu hari, Khalifah Umar bin Khattab sedang membutuhkan seekor kuda untuk ditunggangi. Ia lalu bergegas menuju pasar dan menemui seorang Badui yang menjual kuda di sana.

Khalifah Umar bin Khattab melihat kuda yang ditawarkan oleh si Badui itu. Merasa tertarik dengan kuda tersebut, Umar lalu membelinya dan segera menunggangi kuda tersebut.

Akan tetapi, ketika sedang memacu kudanya, Umar melihat sebuah luka pada kuda itu. Hal tersebut tentu membuat dirinya terganggu.

Karena kasiah dengan kondisi kudanya yang terluka, akhirnya Khalifah Umar segera kembali ke pasar dan menemui si Badui penjual kuda tersebut.

"Ambillah kudamu, dia terluka,” kata Umar sambil menunjukkan kuda itu.

"Wahai Amirul Mukminin, aku tidak akan menerima kuda itu, karena aku telah menjualnya kepada engkau dengan keadaan sehat dan tanpa cacat sedikitpun,” ujar si Badui menolak.

Singkatnya, terjadi perselisihan antara keduanya. Karena tidak ada titik temu dari permasalahan itu. Akhirnya, Khalifah Umar menyuruh si Badui menunjuk seseorang untuk menyelesaikan masalah mereka.

"Yang akan mengadili perkara kita ini adalah Syuraih bin Al Harits Al Kindi," kata si Badui.

Khalifah Umar juga sepakat dengan nama yang disebutkan Badui itu.

Dengan begitu, keduanya lalu pergi menemui Syuraih. Badui itu lalu memberikan keterangan atas masalah tersebut kepada Syuraih. Saat mendengarkan keterangan si Badui, Syuraih menoleh kepada Khalifah Umar. Ia lalu berkata kepada Umar.

"Apakah engkau menerima kuda ini dalam keadaan tanpa cacat, wahai Amirul Mukminin?”

"Ya benar. Saya menerima kuda itu dalam keadaan tanpa cacat,” kata Khalifah Umar.

"Baiklah, kalau begitu, simpanlah apa yang sudah engkau beli. Jika ingin dikembalikan, maka kembalikanlah seperti keadaan semula,” kata Syuraih.

Meski tidak sesuai dengan kejadian, namun setelah mendengar putusan Syuraih, Khalifah Umar merasa puas dan kagum dengan sosok hakim ini. 

"Seharusnya putusan itu seperti ini, diucapkan dengan pasti dan ditetapkan dengan adil,” ujar Umar.

Atas kejadian itu, Khalifah Umar mengangkat Syuraih menjadi hakim. Khalifah Umar lalu memerintahkan Syuraih untuk pergi ke Kufah.  Wallahu A'lam Bishawab. []