Rahmah

Kisah Khafilah Umar bin Khattab dan Seorang Ibu Miskin

Khafilah Umar bin Khattab merupakan sosok pemimpin teladan yang sangat berpihak kepada kepentingan rakyatnya


Kisah Khafilah Umar bin Khattab dan Seorang Ibu Miskin
Kisah Umar bin Khattab (visualizepicture.com)

AKURAT.CO Salah satu Khulafaur Rasyidin, yaitu Khafilah Umar bin Khattab merupakan sosok pemimpin teladan yang sangat berpihak kepada kepentingan rakyatnya. Meskipun ia sendiri hidup dalam kondisi yang sangat sederhana. 

Pada malam hari, tak jarang bagi Khafilah Umar bin Khattab berkeliling untuk mengunjungi dan mengetahui kondisi dari rakyatnya secara lebih dekat. Hingga pada malam itu, ia mendapati sebuah rumah gubuk.

Di dalam gubuk tersebut terlihat seorang ibu yang sedang memasak, ibu itu dikelilingi oleh anak-anaknya yang masih sangat kecil. Lantas ibu itu berkata kepada anak-anaknya, "Tunggulah...! Sebentar lagi makanannya matang,". 

Ibu itu kembali menenangkan anak-anaknya dan mengulangi perkataannya bahwa makanan yang sedang dimasaknya sebentar lagi akan segera matang. Ternyata Khalifah Umar bin Khattab memperhatikan dari luar gubuk. Kemudian sang Khalifah Umar menjadi sangat penasaran terhadap masakan yang dimasak sang ibu yang tak kunjung matang. Padahal ibu itu sudah lama memasakkan makanan tersebut.

Sehingga Khafilah Umar memutuskan untuk menemui ibu itu, dan bertanya: "Mengapa anak-anakmu tidak juga berhenti menangis, Bu?" "Mereka sangat lapar," jawab ibu itu. Sang Khalifah Umar kembali bertanya: "Kenapa tidak cepat engkau berikan makanan yang dari tadi di masak itu?" Sang ibu menjawab: "Kami tidak ada makanan. Periuk yang dari tadi aku masak hanyalah berisi batu untuk mendiamkan mereka. Biarlah anak-anakku berfikir bahwa periuk itu berisi makanan, dengan begitu anak-anakku akan berhenti menangis karena kelelahan dan ketiduran,".

Mendengar jawaban sang ibu, membuat hati sang Kahlifah Umar bin Khattab serasa teriris pisau. Kemudian Khalifah bertanya lagi, "Apakah ibu sering berbuat demikian setiap hari?” ibu itu menjawab : "Iya, saya sudah tidak memiliki keluarga atau pun suami tempat saya bergantung, saya sebatang kara...,”.

Hati Khalifah kembali teriris dan laksana mau copot dari tubuhnya setelah mendengar penuturan itu, hati terasa teriris-iris oleh sebilah pisau yang tajam.

Kemudian Khalifah Umar bertanya lagi: "Mengapa ibu tidak meminta pertolongan kepada Khalifah supaya ia dapat meolong dengan bantuan uang dari Baitul Mal?” ibu itu lalu menjawab: "Ia telah zalim kepada saya...,". ”Zalim....?,” kata Khalifah Umar dengan sangat sedihnya. "Iya, saya sangat menyesalkan pemerintahannya. Seharusnya ia melihat kondisi rakyatnya. Siapa tahu ada banyak orang yang senasib dengan saya!” kata sang ibu.

Mendengar jawaban ibu itu, Khalifah kembali bersedih, Khalifah Umar kemudian berdiri dan berkata kepada sang ibu: "Tunggu sebentar ya, Bu. Saya akan segera kembali".

Sang Khalifah kemudian segera bergegas menuju Baitul Mal di Madinah. Beliau segera mengangkat sekarung gandum yang besar di pundaknya dan ditemani oleh sahabatnya Ibnu Abbas. Sahabatnya membawa minyak samin untuk memasak.

Singkatnya, sampailah Khalifah dan Abbas di gubuk ibu itu. Begitu sekarung gandum dan minyak samin itu diserahkan kepada ibu itu. Melihat hal itu, sang ibu bukan main gembiranya mereka. Setelah itu, Umar berpesan agar ibu itu datang menemui Khalifah keesokan harinya untuk mendaftarkan dirinya dan anak-anaknya di Baitul Mal.

Keesokan harinya, ibu dan anak-anaknya pergi untuk menemui Khalifah. Dan betapa sangat terkejutnya sang ibu ketika menyaksikan bahwa lelaki yang telah menolongnya tadi malam adalah Khalifahnya sendiri, yaitu Khalifah Umar bin Khattab.

Segera saja ibu itu minta maaf atas kekeliruannya yang telah menilai bahwa khalifahnya telah zalim terhadapnya. Namun Sang Khalifah tetap mengaku bahwa dirinyalah yang telah bersalah. Subhanallah. []