Rahmah

Kisah Julaibib (2): Rasa Kehilangan Baginda Rasulullah Kepada Sang Syahid

Rasulullah SAW begitu kehilangan atas wafatnya Julaibib.


Kisah Julaibib (2):  Rasa Kehilangan Baginda Rasulullah Kepada Sang Syahid
Ilustrasi Sahabat Nabi (ISTIMEWA)

AKURAT.CO  Meskipun hampir semua orang tetap memperlakukannya seolah ia tiada, tidak begitu dengan Rasulullah SAW sang rahmat bagi semesta alam. Julaibib yang tinggal di shuffah Masjid Nabawi, suatu hari ditegur oleh Baginda Rasulullah SAW, “Julaibib…”, begitu lembut beliau memanggil, “Tidakkah engkau menikah?” Julaibib menjawab, “Siapakah orangnya Ya Rasulallah," "yang mau menikahkan putrinya dengan diriku ini?”Julaibib menjawab dengan tetap tersenyum.

Tidak ada kesan menyesali diri atau menyalahkan takdir Allah SWT. Rasulullah SAW juga tersenyum. Mungkin karena memang tidak ada orang tua yang berkenan pada Julaibib. 

Di hari berikutnya, ketika bertemu dengan Julaibib, Rasulullah SAW kembali menanyakan hal yang sama. “Julaibib, tidakkah engkau menikah?”. Julaibib pun langsung menjawab dengan jawaban yang sama. Begitu, begitu, begitu. Tiga kali. Tiga hari berturut-turut. 

Pada saat hari ketiga itulah, Sang Nabi Muhammad SAW menggamit lengan Julaibib dan membawanya ke salah satu rumah seorang pemimpin Anshar. “Aku ingin menikahkan puteri kalian,”, kata Rasulullah SAW pada si empunya rumah.

“Betapa indahnya dan betapa barakahnya”, begitu si wali menjawab berseri-seri, mengira bahwa sang Nabi lah calon menantunya. “Ooh.. Ya Rasulallah, ini sungguh akan menjadi cahaya yang menyingkirkan temaram di rumah kami.” “Tetapi bukan untukku”, kata Rasulullah SAW, “ku pinang putri kalian untuk Julaibib”

“Julaibib?”, sontak membuat sang ayah gadis itu terkaget. “Ya, untuk Julaibib," jawab Rasulullah. “Ya Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam”, terdengar helaan nafas berat sang ayah. “Saya harus meminta pertimbangan istri saya tentang hal ini”.

“Dengan Julaibib?”, istrinya berseru, “Bagaimana bisa? Julaibib berwajah lecak, tidak bernasab, tidak berkabilah, tidak berpangkat, dan tidak berharta. Demi Allah tidak. Tidak akan pernah putri kita menikah dengan Julaibib”.

Setelah itu, terjadi perdebatan yang tidak berlangsung lama. Sang putri dari balik tirai berkata anggun, “Siapa yang meminta?” Sang ayah dan sang ibu menjelaskan.

Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah SAW? Demi Allah, kirim aku padanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah SAW yang meminta, maka tiada akan dia membawa kehancuran dan kerugian bagiku”. Sang gadis yang shalehah lalu membaca ayat ini:

Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (QS. Al Ahzab : 36). Kemudian Baginda Rasulullah SAW dengan tertunduk berdoa untuk sang gadis shalihah itu, “Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atasnya, dalam kelimpahan yang penuh barakah. Jangan Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah,”.

Sehingga benarlah doa yang dipanjatkan oleh Rasulullah SAW. Kemudian Allah SWT karuniakan jalan keluar baginya. Maka kebersamaan di dunia itu tidak ditakdirkan terlalu lama. Meski di dunia sang istri shalehah dan bertaqwa, tapi bidadari telah terlampau lama merindukannya. Julaibib telah dihajatkan langit mesti tercibir di bumi. Ia lebih pantas menghuni surga daripada dunia yang bersikap tidak terlalu bersahabat padanya.

Saat syahid, Sang Nabi begitu kehilangan. Namun Baginda Rasulullah SAW akan mengajarkan sesuatu kepada para sahabatnya. Maka Rasulullah SAW bertanya diakhir pertempuran. “Apakah kalian kehilangan seseorang?”.

“Tidak Ya Rasulallah!”, serempak para sahabat menjawab. Sepertinya Julaibib memang tidak beda ada dan tiadanya di kalangan mereka. 

“Apakah kalian kehilangan seseorang?”, Baginda Rasulullah SAW bertanya lagi. Kali ini wajahnya merah bersemu.

“Tidak, Ya Rasulallah!”. Kali ini sebagian menjawab dengan was-was dan tidak seyakin jawaban pertama. Beberapa menengok ke kanan dan ke kiri. Rasulullah SAW menghela nafas dan berkata, “Tetapi aku kehilangan Julaibib”, kata beliau. Para sahabat tersadar, “Carilah Julaibib!”

Setelah dicari, akhirnya Julaibib ditemukan. Julaibib yang mulia, terbunuh dengan luka-luka pada semua arah muka. Di sekelilingnya, tergolek tujuh jasad musuh yang telah Julaibib bunuh.

Dengan tangannya sendiri, Rasulullah SAW mengafani Sang Syahid. Beliau mensalatkannya secara pribadi. Baginda Rasulullah SAW kemudian berkata, “Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku dan aku adalah bagian dari dirinya,".[]