Rahmah

Kisah Imam Syafi'i, Perjalanan Intelektual yang Patut Dijadikan Motivasi 

Saat memasuki usia muda, Imam Syafi'i banyak mencurahkan waktunya untuk mencari naskah-naskah sastra dengan cara berkeliling ke kabilah-kabilah pedalaman.


Kisah Imam Syafi'i, Perjalanan Intelektual yang Patut Dijadikan Motivasi 
Ilustrasi Imam Syafi'i (Tangkapan Layar YouTube Kastari Sentra)

AKURAT.CO  Imam Syafi’i dilahirkan pada tahun 150 Hijriah yaitu bertepatan dengan wafatnya dua ulama besar saat itu, Imam Abu Hanafi yang wafat di Irak dan Imam Ibn Jureij Al-Makky. Belaiu merupakan seorang mufti hijaz yang wafat di kota Makkah.

Perjalanan Menimba Ilmu Imam Syafi'i

Saat memasuki usia muda, Imam Syafi'i banyak mencurahkan waktunya untuk mencari naskah-naskah sastra dengan cara berkeliling ke kabilah-kabilah pedalaman. Diantaranya adalah kabilah Hudzel (kabilah yang terkenal sebagai ahli sastra).

baca juga:

Kemudian setelah Imam Syafi'i melewati pengembaraan dalam bidang sastra, akhirnya ia mahir dalam menggubah syair-syair Arab serta menciptakan karya syair yang  dikumpulkan oleh Syekh Yusuf Muhammad Al-Biqa’i dalam buku kecil berjudul Diwan Al-Syafi’i.

Sedangkan perkenalan Imam Syafi’i dengan keilmuan fikih dimulai ketika guru-gurunya menyarankan agar beliau mempelajari fikih setelah mahir berkarya di bidang sastra.

"Alangkah baiknya jika kecerdasanmu itu digunakan untuk mempelajari ilmu fikih, hal itu lebih baik bagimu dari pada hanya belajar sastra," kata Imam Muslim bin Khalid guru Imam Syafi'i.

Atas saran dari guru-gurunya itulah Imam Syafi’i akhirnya termotivasi untuk mempelajari ilmu fikih dan ilmu hadis. Imam Syafi'i kemudian belajar kepada ulama besar kota Makkah yaitu Imam Sufyan bin Uyainah (seorang ahli hadis) dan Muslim bin Khalid Al-Zanji, (seorang ahli fikih).

Tak hanya sampai disitu, Imam Syafi’i melanjutkan safari keilmuannya hingga ke kota Madinah untuk berguru dengan Imam Malik bin Anas. Berikutnya, Imam Syafi’i juga berguru kepada murid-murid Imam Hanafi ke Kufah dan Irak.

Setelah itu, Imam Syafi'i melanjutkan perjalanan hingga ke Persia, Turki, dan Palestina sebelum akhirnya memutuskan untuk tinggal di Mesir.

Ternyata pengalaman-pengalaman dalam mengembara ilmu itulah yang membuatnya melahirkan beberapa petuah tentang musafir agar mencari ilmu tidak hanya di satu tempat.

“Singa jika tidak keluar dari sarangnya maka ia tidak akan mendapatkan makanan. Begitu juga dengan anak panah, jika tidak meluncur dari busurnya, anak panah tersebut tidak akan mengenai sasarannya,” kata Imam Syafi’i. Wallahu A'lam Bishawab. []