Rahmah

Kisah Imam Syafi'i; Biografi Singkat Sang Pembela Sunnah

Imam Syafi’i dilahirkan pada tahun 150 Hijriah yaitu bertepatan dengan wafatnya dua ulama besar saat itu, Imam Abu Hanafi dan Imam Ibn Jureij Al-Makky.


Kisah Imam Syafi'i; Biografi Singkat Sang Pembela Sunnah
Ilustrasi Imam Syafi'i (Tangkapan Layar YouTube Kisah Islami)

AKURAT.CO  Dalam khazanah keilmuan, banyak tokoh-tokoh Muslim yang sangat berpengaruh dan memberikan sumbangsih pemikiran untuk kemajuan ilmu pengetahuan. Sebut saja Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Hambali, serta Imam Syafi'i yang semuanya dikenal sebagai mazhab empat.

Sementara itu, umat Muslim Indonesia mayoritas menganut mazhab Imam Syafi'i dalam menjalankan syariat agama. Lebih khusus lagi di bidang ilmu fikih dan ilmu hadis.

Biografi Imam Syafi'i

baca juga:

Diketahui, Imam Syafi’i dilahirkan pada tahun 150 Hijriah yaitu bertepatan dengan wafatnya dua ulama besar saat itu, Imam Abu Hanafi yang wafat di Irak dan Imam Ibn Jureij Al-Makky. Belaiu merupakan seorang mufti hijaz yang wafat di kota Makkah.

Imam Syafi'i memiliki nama lengkap Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin Saib bin Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Abdul Muthalib (kakek dari Rasulullah SAW). Sementara nama Imam Syafi’i, yang kita kenal sekarang ini, diambil dari nama kakek buyu beliau. Sedangkan ibunya bernama Fatimah binti Ubaidillah yang merupakan perempuan keturunan sahabat Ali bin Abi Thalib dari jalur Sayyidina Husein RA.

Imam al-Syafi’i mempunyai ayah  bernama Idris yang seorang pemuda asal Makkah yang merantau ke Gaza, Palestina. Ia memiliki keuletan serta keikhlasan luar biasa sehingga dapat disimpulkan bahwa Imam Syafi’i adalah ulama yang bernasab mulia.

Saat masih berusia dua tahun, Imam Syafi’i sudah dibawa ke kota Makkah oleh sang ibu. Kepindahan sang ibu bersama Imam Syafi’i dikarenakan meninggalnya ayah Imam Syafi’i sehingga membuat ekonomi ibunya sedikit memprihatinkan. Namun seelah tumbuh dan berkembang di kota Makkah, Imam Syafi’i begitu jatuh cinta dengan dunia sastra.

Saat memasuki usia muda, Imam Syafi'i banyak mencurahkan waktunya untuk mencari naskah-naskah sastra dengan cara berkeliling ke kabilah-kabilah pedalaman. Diantaranya adalah kabilah Hudzel (kabilah yang terkenal sebagai ahli sastra).

Kemudian setelah Imam Syafi'i melewati pengembaraan dalam bidang sastra, akhirnya ia mahir dalam menggubah syair-syair Arab serta menciptakan karya syair yang  dikumpulkan oleh Syekh Yusuf Muhammad Al-Biqa’i dalam buku kecil berjudul Diwan Al-Syafi’i.

Sedangkan perkenalan Imam Syafi’i dengan keilmuan fikih dimulai ketika guru-gurunya menyarankan agar beliau mempelajari fikih setelah mahir berkarya di bidang sastra. []