News

Kisah Huda dan Susi yang Tetap Bersemangat Mengajar Walau Hanya Digaji Rp200 Ribu


Kisah Huda dan Susi yang Tetap Bersemangat Mengajar Walau Hanya Digaji Rp200 Ribu
Guru honorer Madarasah Ibtisaiyah Hidayatul Tholibin, Mulyoharjo Jepara Nidhomul Huda (AKURAT.CO/Dafi Yusuf)

AKURAT.CO, Walau mendapat gaji Rp300 ribu setiap bulannya, guru honorer Madarasah Ibtisaiyah Hidayatul Tholibin, Mulyoharjo Jepara Nidhomul Huda tetap bersemangat mengajar anak didiknya. Hal itu disebabkan, menjadi guru merupakan cita-citanya sejak kecil. 

Perjuangannya menjadi guru tak mudah, dengan gaji yang seadanya ia harus putar otak agar kebutuhannya dapat tercukupi. Bahkan saat pertama menjadi guru, ia sempat ragu karena gaji dengan kebutuhannya saat itu tak sebanding.

Namun, pada tahun 2017 Huda memutuskan untuk menjadi guru honorer di Madarasah Ibtisaiyah  Hidayatul Tholibin dengan konsekuensi yang sebelumnya membuatnya ragu.

"Ya awalnya memang ragu. Namun bagaimana lagi, saya bercita-cita menjadi guru. Akhirnya saya memutuskan menjadi guru di tahun 2017 walaupun gajinya tak seberapa. Nekat aja," jelasnya pada Akurat.co, Senin (25/11/2019).

Di tengah perjalanannya menjadi guru, apa yang ditakutkan Huda benar terjadi. Ternyata gaji yang ia peroleh menjadi guru honorer tak cukup untuk kebutuhannya sehari-hari.

Kisah Huda dan Susi yang Tetap Bersemangat Mengajar Walau Hanya Digaji Rp200 Ribu - Foto 1
Guru honorer Madarasah Ibtisaiyah Hidayatul Tholibin, Mulyoharjo Jepara Nidhomul Huda. AKURAT.CO/Dafi Yusuf

Huda hampir putus asa dengan keadannya. Sempat terlintas dibenaknya untuk mencari pekerjaan lain dengan gaji yang lebih besar. Perasaan itu selalu menghantuinya. 

Kebimbangan menyelimuti perasaan Huda selama berminggu-minggu waktu itu. Antara memilih tetap menjadi guru honorer dengan gaji yang tak seberapa atau mencari pekerjaan yang lain namun meninggalkan apa yang telah ia cita-citakan sejak kecil.

Hingga pada suatu ketika, Huda bertemu dengan temannya yang mengajaknya untuk berbisnis kain troso. Mulai saat itu, ia menjadikan bisnis kain troso sebagai pekerjaan sampingan agar mendapatkan penghasilan tambahan.

"Ya jualan kain troso lumayan buat sampingan tambahan penghasilan dari gaji menjadi guru kan. Jadi mulai saat itu saya bisa meneruskan cita-citanya menjadi guru sambil berjualan kain troso," terangnya.

Beda dengan kisah guru honorer Madarasah Ibtidaiyah TPQ Raudlotul Quran Mijen Susilowati. Dengan gaji Rp 200 ribu setiap bulan. Selama 10 tahun ia dengan ikhlas mengajar di madarasah tersebut. Walau ia sadar gajinya tak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari, ia tetap ikhlas. Karena baginya menjadi guru merupakan perjuangan. 

"Akhirnya saya sembari menjual pulsa. Lumaya buat tambah-tambahan pengahasilan," jelasnya.[]