Rahmah

Kisah Hikmah WNI yang Rayakan Idul Adha di Negeri Ginseng

Sodik bercerita mengenai perayaan Hari Raya Idul Adha 1442 H di Korea Selatan tepatnya di Kota Paju.


Kisah Hikmah WNI yang Rayakan Idul Adha di Negeri Ginseng
Shodik, WNI asal Indramayu yang bekerja di Korea Selatan (Akmad Fauzi)

AKURAT.CO  Menjadi seorang muslim tentu tidaklah mudah dalam menjalani hidup di negara mayoritas penduduknya non muslim. Perbedaan adat, tradisi serta berbagai aspek kehidupan yang berbeda membuat seorang muslim sering mendapati godaan seperti pergaulan bebas, minuman keras dan sampai sulitnya mencari makanan halal.

Pada dasarnya tidak ada masalah bagi umat muslim yang tinggal di Korea Selatan. Pemerintah cenderung terbuka dan mensupport terhadap keyakinan dan budaya luar. Banyak kebijakan yang memberikan kelonggaran bagi muslim di Korea Selatan. Termasuk dalam pelaksanaan Hari Raya Idul Adha. Hal itu ditunjukkan dengan dibukanya beberapa masjid yang untuk menggelar salat Idul Adha.

Sebagaimana pengakuan Sodik, pria asal Indramayu, Jawa Barat, yang sudah hampir tiga tahun bekerja di Korea Selatan. Sebagai muslim yang taat, ia dituntut menjalankan kewajiban seperti ibadah salat, dan juga tetap melaksanakan tugas sehari-hari sebagai pekerja. 

Sodik bercerita mengenai perayaan Hari Raya Idul Adha 1442 H di Korea Selatan tepatnya di Kota Paju. Menurutnya, perayaan Idul Adha tahun ini sama dengan tahun lalu karena masih dalam situasi pandemi Covid-19.

"Di Korea Selatan, salat id itu diperbolehkan, tetapi harus menggunakan protokol kesehatan yang ketat," katanya, dikutip Jumat, (23/7/2021).

Kendati demikian, ia mengatakan beberapa masjid di Korea Selatan juga tidak mendapat izin dari Pemerintah untuk menggelar salat Id seperti di Islamic Center, Seol karena berada di zona merah. Meskipun sebagian terdapat masjid yang mendapat izin, akan tetapi harus tetap mematuhi protokol kesehatan yang ketat, seperti memakai masker, menjaga jarak dan membatasi jumlah jamaah.

"Alhamdulillah tahun ini masih bisa melakukan salat id, karena di daerah tempat tinggal saya terdapat masjid yang mendapat izin dari pemerintah," katanya.

Lebih lanjut ia menjelaskan jika di Korea Selatan, Idul Adha tidak termasuk dalam hari libur nasional. Sehingga pabrik-pabrik atau perusahaan hanya memberi izin untuk melakukan salat id saja. Setelah itu, mereka langsung bergegas untuk bekerja kembali.

Sementara untuk kurban, di sekitar tempat tinggalnya tidak ada prosesi penyembelihan hewan kurban baik itu dari WNI atau penduduk muslim asli. Hal tersebut karena masalah pandemi Covid-19.

"Di sini tidak ada penyembelihan hewan kurban, mungkin ada di kota-kota lain," pungkasnya.

Ia menambahkan jika kebanyakan WNI muslim melakukan kurban di Indonesia karena masalah perbedaan harga hewan kurban.

"Kurban di sini sangat mahal, harga kambing disini bisa setara dengan harga sapi di Indonesia, makanya teman-teman WNI muslim disini umumnya melakukan kurban di kampung halaman," tambahnya.[]