Rahmah

Kisah Hikmah, Ketika Ali bin Abi Thalib Tak Jadi Membunuh Musuh di Medan Perang

Dari semua peperangan yang diikuti Ali bin Abi Thalib, ia selalu menunjukkan kepahlawanan dan kekesatriaannya.


Kisah Hikmah, Ketika Ali bin Abi Thalib Tak Jadi Membunuh Musuh di Medan Perang
Kaligrafi Ali (Mantra Pandeglang)

AKURAT.CO  Salah satu yang dikenal dari Sahabat Ali bin Abi Thalib adalah jiwa ksatria dan kepahlawanannya. Beberapa riwayat menyebut, Ali bin Abi Thalib memiliki pedang yang diberi nama Dzul Fiqar. Pedang tersebut memiliki dua ujung yang lancip. Di mana dengan pedang itulah, Sahabat Ali berjihad melawan pasukan musuh tanpa sedikitpun rasa takut yang menghampiri.

Sebagai contoh, pada peperangan Khandaq. Saat itu, sekelompok kecil pasukan Quraisy berhasil menyeberangi parit. Diantara dari mereka yaitu Amr bin Abdi Wudd, Ikrimah bin Abu Jahl dan Dhirar bin Khaththab. 

Merespon hal tersebut, Ali bin Abi Thalib dan sekelompok yang berjaga pada sisi tersebut segera mengepung mereka. Diketahui, Amr bin Abdi Wudd adalah jawra Quraisy yang hampir tidak pernah tumbang di medan perang. Artinya, siapa saja yang melawannya, kebanyakan akan kalah. 

Saat itu juga, ia melontarkan tantangan duel, dan segera saja Ali bin Abi Thalib menghadapinya. Diketahui, Amr bin Wudd sempat meremehkan Ali karena secara fisik, ia jauh lebih besar dan gagah. 

Kemudian setelah turun dari kudanya, ia menunjukkan kekuatannya, ia menampar kudanya hingga roboh. Namun semua itu tidak membuat Ali gentar sekalipun, bahkan dengan mudahnya Ali merobohkan dan membunuhnya. Karena Amr bib Wudd telah terbunuh, keadaan itu, anggota pasukan Quraisy lainnya, lari terbirit-birit sampai masuk parit untuk menyelamatkan diri.

Itu merupakan satu dari beberapa kisah jiwa ksatria yang dimiliki Sahabat Ali. Sehingga hampir tidak ada peperangan yang tidak diikutinya. Dari semua peperangan itu, Ali bin Abi Thalib selalu menunjukkan kepahlawanan dan kekesatriaannya, sekaligus kualitas akhlaknya sebagai didikan wahyu, yaitu didikan Rasulullah SAW. 

Bahkan pernah diceritakan, dalam suatu pertempuran Ali sudah hampir membunuh musuhnya, namun secara tiba-tiba musuh tersebut meludahi wajahnya. Sehingga tampak tersirat kemarahan Ali, tetapi justru ia meninggalkan dan membiarkannya hidup. 

Hal tersebut tentu membuat sebagian anggota pasukan Muslim yang melihatnya heran dan menanyakan sikapnya tersebut. 

"Ketika aku bertempur dan akan membunuhnya, aku masih berjuang karena agama Allah. Tetapi ketika ia meludahiku dan ada sedikit kemarahan dalam diriku, aku takut membunuhnya itu karena (nafsu) kemarahanku yang muncul," jawab Ali. Wallahu A'lam Bishawab. []