Rahmah

Kisah Haru Saat Rasulullah Mencium Tangan Tukang Batu

Ketika mendekati kota Madinah, tepat di salah satu sudut jalan, Baginda Rasulullah SAW berjumpa dengan seorang tukang batu.


Kisah Haru Saat Rasulullah Mencium Tangan Tukang Batu
Ilustrasi (ISTIMEWA)

AKURAT.CO  Diriwayatkan pada satu hari Rasulullah baru tiba dari Tabuk, tepatnya setelah peperangan dengan bangsa Romawi yang kerap menebar ancaman bagi kaum Muslimin. Kala itu hampir seluruh sahabat Rasulullah SAW ikut serta dalam peperangan.

Ketika mendekati kota Madinah, tepat di salah satu sudut jalan, Baginda Rasulullah SAW berjumpa dengan seorang tukang batu. Rasulullah SAW melihat tangan tukang batu itu begitu melepuh, kulitnya merah kehitam-hitaman seperti terpanggang oleh sinar matahari.

Kemudian Baginda bertanya, “Kenapa tanganmu kasar sekali?”. Tukang batu itu menjawab, "Ya Rasulullah, pekerjaan saya ini membelah batu setiap hari, dan belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar,”.

Rasulullah SAW merupakan teladan yang paling mulia, begitu melihat tangan si tukang batu yang kasar karena mencari nafkah yang halal, Rasulpun langsung menggenggam tangannya dan kemudian menciumnya seraya bersabda,

"Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada”, inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya,".

Semasa hidup, Rasulullah SAW tidak pernah mencium tangan para Pemimpin Quraisy, tangan para Pemimpin Khabilah, Raja atau tangan siapapun. Sejarah mencatat, Rasulullah hanya pernah mencium tangan putri beliau, Fatimah Az Zahra dan tukang batu tersebut. 

Suatu hari, seorang laki-laki melintas di hadapan Rasulullah. Laki-laki itu di kenal sebagai pekerja yang giat dan disiplin. Para sahabat kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, andai bekerja seperti dilakukan orang itu dapat digolongkan jihad di jalan Allah (Fi sabilillah), maka alangkah baiknya.” Mendengar itu Rasul pun menjawab, “Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, maka itu fi sabilillah, kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia, maka itu fi sabilillah: kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, maka itu fi sabilillah,”.(HR Thabrani).

Rasullullah SAW sangat prihatin kepada pemalas. Orang-orang yang malas bekerja, sesungguhnya tidak menyadari bahwa mereka telah kehilangan sebagian dari harga dirinya, yang lebih jauh dapat mengakibatkan mengalami kemunduran baginya.

Semoga kita termasuk orang-orang yang giat dalam bekerja dan dijauhkan dari rasa malas dan lalai terhadap waktu. Wallahu A'lam.[]