Rahmah

Kisah; Fathul Makkah dan Keislaman Pemimpin Quraisy

Atas kejadian Fathul Makkah, orang-orang musyrik dan kaum Quraisy merasa sangat terpukul. Salah satunya adalah Abu Sufyan.


Kisah; Fathul Makkah dan Keislaman Pemimpin Quraisy
Ilustrasi Fathul Makkah (Republika)

AKURAT.CO Diketahui, saat itu, orang-orang musyrik dan kaum Quraisy merasa ketakutan ketika Rasulullah SAW beserta pasukan Muslim datang untuk menaklukkan Kota Suci Makkah. Karena ketakutan tersebut, sehingga, tidak ada satu orang pun yang berani keluar untuk memperlihatkan batang hidungnya melawan pasukan Muslim yang langsung dipimpin oleh  Rasulullah SAW tersebut.

Atas kejadian itu, orang-orang musyrik dan kaum Quraisy merasa sangat terpukul. Salah satunya adalah Abu Sufyan. Ia merupakan pemimpin kaum kafir dan juga seorang bangsawan yang terhormat. 

Sebelum kejadian itu, Abu Sufyan  selalu disanjung dan dipuji-puji oleh rakyatnya. Akan tetapi, saat peristiwa itu terjadi, ia tidak dapat berbuat apa-apa. Sekedar keluar rumah pun ia tidak berani, apalagi sampai melawan pasukan Muslim.

Sebagai orang yang sangat bijaksana, setelah kejadian itu, saat hendak melangkahkan kaki ke Masjidil Haram untuk meruntuhkan berhala-berhala di Ka’bah, Rasulullah SAW berseru kepada penduduk Makkah “Barang siapa yang masuk ke dalam Masjidil Haram dan rumah Abu Sufyan, maka akan dilindungi,”. 

Begitu mendengar seruan Rasulullah SAW, Abu Sufyan akhirnya merasa bangga lantaran rumahnya disamakan dengan Masjidil Haram. Dengan begitu, sekarang, ia sudah tidak perlu lagi kehilangan rasa percaya dirinya di hadapan rakyat-rakyatnya itu. Karena ia merasa bahwa rumahnya disamakan dengan Masjidil Haram, yaitu tempat yang sangat dihormatinya. 

Dengan kejadian itu juga, seketika  putra Abu Sufyan, Mu’awiyah segera memeluk agama Islam. Akan tetapi, Abu Sufyan dan istrinya masih belum menerima Islam sebagai agamanya. Mereka masih meminta waktu seminggu untuk berpikir dan berdialog dengan sang istri. Sementara, semua penduduk Quraisy sudah berbondong-bondong mengikuti ajaran yang dibawakan Rasulullah SAW.

Setelah mendengar Abu Sufyan meminta waktu satu minggu untuk berpikir, Maka Rasulullah SAW menjawab. “Jangan seminggu!” 

“Apakah waktu seminggu itu terlalu lama?” tanya Abu Sufyan dengan terkejut. 

“Tidak waktu satu minggu itu terlalu cepat untukmu, jadi sekarang kuberi waktu dua bulan untuk berpikir secara leluasa, apakan kamu akan bersahadat atau tidak. Sebab agama Islam adalah agama orang-orang yang berfikir dan berakal. Tidak ada agama bagi orang-orang yang tidak memiliki akal,” jawab Rasulullah SAW secara jelas.

Kisah ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW memiliki sikap kebijaksanaan dalam menyikapi suatu permasalahan. Meskipun posisinya saat itu sudah berkuasa, namun beliau selalu bersikap bijaksana dan adil dalam memutuskan persoalan. Wallahu A'lam Bishawab. []