Rahmah

Kisah Dua Cucu Nabi Pura-pura Bertengkar untuk Mengingatkan Kesalahan Orang Salat 

Membenarkan kesalahan tidak boleh ada rasa menggurui.


Kisah Dua Cucu Nabi Pura-pura Bertengkar untuk Mengingatkan Kesalahan Orang Salat 
Dua Cucu Nabi (AKURAT.CO/Lufaefi)

AKURAT.CO Nabi Muhammad dikenal memiliki keluarga yang baik dan bijak. Kedua orang tuanya dikenal sebagai orang yang baik, dermawan, dan mau membantu sesama. Pamannya, Abu Thalib, meski bukan muslim, dikenal sebagai pejuang yang membantu dakwah Nabi.

Selain itu beliau juga memiliki dua cucu, bernama Hasan dan Husein Radiyallahu 'Anhuma. Keduanya dikenal sebagai anak-anak yang lucu, dan sering menemani Rasulullah dalam melakukan kegiatan.

Hasan dan Husein merupakan kakak beradik yang menjadi kesayangan Rasulullah. Hampi aktivitas Nabi Muhammad dulu selalu bersama kedua cucunya tersebut.

baca juga:

Hasan dan Husein dikenal sebagai dua cucu nabi yang memiliki akhlak yang mulia. Di antara akhlaknya yang mulia adalah selalu menghormati orang yang lebih tua. Meskipun keduanya melihat orang tua yang salah akan tetapi keduanya berusaha mengingatkan dengan mengesampingkan ketersinggungan.

Disebutkan dalam buku Kisah Inspiratif untuk Anak Muslim karya Aryani Syurfah halaman 9, suatu hari Hasan dan Husein melihat seorang laki-laki tua yang sedang berwudhu akan tetapi wudhunya itu banyak yang salah. Apa yang dibasuh dalam wudhunya banyak yang tidak sesuai dengan tuntunan Islam.

Tidak hanya wudhu, salatnya pun banyak yang salah. Gerakannya hampir semuanya tidak sejalan dengan yang diminta oleh kakek Hasan dan Husein, yakni Rasulullah SAW. Akan tetapi keduanya bingung bagaimana caranya untuk bisa mengingatkan orang tua tersebut dengan tanpa menyinggungnya.

Setelah berfikir lama, keduanya akhirnya menemukan ide. Hasan dan Husein sengaja bertengkar tentang hukum salat dan wudhu yang dilakukan oleh orang tua itu. Hasan dan Husein sengaja agar seorang laki-laki itu mau memisah pertengkarannya.

Setelah menceritakan kepada orang tua tersebut tentang apa yang membuatnya bertengkar, yakni tentang hukum wudhu dan salat dirinya, maka orang tua itu menyadari akan kesalahannya. Ia akhirnya mengatakan kepada Hasan dan Husein bahwa dirinyalah yang salah, bukan orang lain.

Tidak lama kemudian Hasan dan Husein berhenti bertengkar. Melihat Hasan dan Husein orang tua tersebut pun merasa berterimakasih sebab secara tidak langsung telah diberitahu akan kesalahannya dalam wudhu dan salat.