Ekonomi

Kisah DPM Asal Magelang Sukses Bangun Desa Lewat Ekosistem Kewirausahaan

Rayndra sukses membangun ekosistem kewirausahaan pertanian melalui pelibatan pemuda pedesaan bertajuk Milenial Bangun Desa


Kisah DPM Asal Magelang Sukses Bangun Desa Lewat Ekosistem Kewirausahaan
Rayndra Syahdan Mahmudin, DPM asal Magelang, Jawa Tengah (Dokumen)

AKURAT.CO Gebrakan Duta Petani Milenial (DPM) Kementerian Pertanian (Kementan) dalam meresonansi regenerasi petani diberbagai daerah, semakin terlihat nyata. Salah satunya diperlihatkan Rayndra Syahdan Mahmudin, DPM asal Magelang, Jawa Tengah, yang sukses membangun ekosistem kewirausahaan pertanian melalui pelibatan pemuda pedesaan bertajuk Milenial Bangun Desa.

Hal ini selaras dengan semangat Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, yang mengungkapkan sektor pertanian merupakan bisnis menjanjikan. 

“Untuk itu kami ingin mencetak jutaan petani milenial yang mandiri, inovatif, dan berdaya saing tinggi. Petani milenial harus kreatif mengelola sektor pertanian dan mampu menghasilkan produk siap pakai,” tegas Mentan SYL.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, menyatakan bahwa pengungkit utama sektor pertanian adalah SDM yang mumpuni. 

“Jadi yang paling penting bukan alsintannya. Tapi para praktisi pertaniannya. Khususnya petani-petani milenial,” katanya.

Dedi menegaskan bahwa kunci keberhasilan pembangunan pertanian ada pada petani milenial. Itu sebagaimana perkembangan sektor pertanian di negara-negara majuman, dimana petani milenial menjadi ujung tombaknya.

Rayndra Syahdan Mahmudin, yang sukses berwirausaha di bidang peternakan kambing dan sapi dengan bendera Cipta Visi Group. 

Pria kelahiran tahun 1995 ini merupakan alumni Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YoMa). 

Menjadi peternak adalah profesi yang sering dipandang sebelah mata oleh banyak orang utamanya bagi anak muda atau milenial masa kini. Namun hal ini tidak berlaku bagi Rayndra yang sejak kecil sudah bercita-cita untuk menjadi petani sukses.

Memulai karier saat masih menempuh pendidikan di Polbangtan Yoma, ia telah  merintis berbagai macam usaha mulai dari menjual sayur dan usaha ayam joper, walaupun pada akhirnya gagal. 

Namun, kegagalan tersebut bukan akhir dari segalanya bagi Rayndra. Ia mencoba bangkit dengan menjalankan usaha ternak kambing dan sapi. Kini Rayndra pun mengembangkan usahanya ke budidaya Hydroponik, pengolahan gula semut serta vega nektar. Kini ia pun mampu meraih omzet hingga Rp200 juta perbulannya.

Ia pun memberdayakan  petani jagung dan kedelai sekitar kendang yang limbahnya dapat digunakan sebagai pakan ternak, sementara kotoran yang dihasilkan dari ternak dombanya dapat menyuburkan tanah tanaman. 

“Selain saling menguntungkan antara kotoran ternak, limbah pertanian jagung dan kedelai bisa digunakan di peternakan saya. Saat ini saya sudah mendampingi sekitar 200 petani,” kata Rayndra.

Terkait dengan Milenial Bangun Desa, Rayndra memaparkan aksi nyatanya melalui pelibatan Karang Taruna, PKK Milenial, Sekolah Tani Milenial, serta Posyandu bagi hewan ternak. 

“Semua ini melibatkan generasi muda. Kita ajak mereka melihat potensi yang ada, lalu menentukan ide tepat berdasarkan kearifan lokal. Lalu ide tersebut dikomunikasikan dengan pihak terkait salah satunya Pemda dan Kementerian terkait. pendampingan dan evaluasi tak lupa kami lakukan,” ungkapnya. 

Dukungan penuh pun didapatkan dari kepala daerah kabupaten Magelang serta Kepala Desa Ngablak. 

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Magelang, Iwan Sudiarso, pada pertemuan Konsolidasi Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) dan Budaya Petani Milenial  yang dilaksanakan di Artos Hotel Magelang, 14 September 2021, mengatakan Pemerintah Daerah Kabupaten Magelang sangat mendukung regenerasi petani di wilayahnya. 

Bahkah Bupati Magelang berupaya mengkawinkan potensi sumberdaya alam yang ada menjadi sektor pariwisata atau yang kita kenal dengan agroeduwisata serta UMKM.

“Kita mencoba memanfaatkan sektor unggulan untuk mendongkrak kesejahteraan masyarakat, diantaranya melalui pemberdayaan UKM dan koperasi berbasis sumber daya lokal, pengembangan agribisnis berorientasi pasar termasuk pertanian organik, pengembangan pariwisata dengan melindungi kearifan lokal dan berbasis masyarakatpengembangan destinasi pariwisata potensial dan strategis serta pembangunan pusat seni budaya dan pariwisata/anjungan cerdas,” papar Iwan.

Iwan pun menuturkan saat ini diperlukan adanya transformasi pengelolaan usaha pertanian  menjadi suatu ekosistem bisnis baru. 

“Dalam pertanian modern, Petani diharapkan bertransformasi menjadi pebisnis dan berjiwa kewirausahaan  dan ini menjadi peluang besar bagi generasi muda. Dan tak kalah pentingnya organisasi atau kelembagaan petani perlu disesuaikan/dirubah dan dikembangkan menjadi berbentuk korporasi salah satunya adalah Bumdes,” tambahnya.

Keberhasilan Rayndra membuktikan bahwa petani merupakan profesi yang menjanjikan karena bisa menghasilkan penghasilan yang layak.[TIM]