News

Kisah Dokter AS yang Tipu Pasien Program Hamil, Ganti Sperma Donor dengan Punyanya Sendiri

Ulahnya terungkap setelah salah satu anak pasiennya menemukan banyak saudara yang sedarah dengannya di luar keluarganya.


Kisah Dokter AS yang Tipu Pasien Program Hamil, Ganti Sperma Donor dengan Punyanya Sendiri
Ilustrasi pembuahan sel telur dan sperma. (CBS News)

AKURAT.CO, Seorang dokter di New York, Amerika Serikat (AS), digugat lantaran menggunakan spermanya sendiri untuk membuahi seorang wanita. Padahal, sperma tersebut seharusnya berasal dari donor terpisah.

Dilansir dari CBS24, Dr Morris Wortman memberi tahu calon orang tua yang dirawatnya bahwa sperma yang akan digunakan untuk membuahi berasal dari donor. Namun, ia malah menggunakan spermanya sendiri. Ulahnya pun terungkap setelah seorang wanita menemukan banyak saudara tiri melalui alat tes DNA yang dijual bebas.

Menurut gugatan itu, Wortman menginseminasi setidaknya 1 wanita di klinik kesuburan pribadinya yang berbasis di Rochester. Menurut penggugat, Wortman memberi tahu orang tuanya bahwa si pendonor sperma adalah mahasiswa kedokteran Universitas Rochester dengan latar belakang etnis tertentu dan tak punya riwayat gangguan kesehatan. Ginekolog itu pun menarik bayaran USD 50 (Rp712 ribu) untuk setiap tindakan inseminasi.

Orang tua penggugat lantas membayar Wortman Rp712 ribu 2-3 kali sebulan pada akhir 1983 hingga Januari 1985. Setelah beberapa kali percobaan inseminasi gagal, ibu penggugat hamil dengan spermanya. Wortman pun sangat diagungkan dalam keluarga penggugat berkat bantuannya yang menciptakan 'keajaiban' setelah ayah penggugat menderita cedera yang menyebabkan masalah kesuburan.

Sang penggugat yang tak lain adalah anak hasil dari inseminasi itu kemudian mencari identitas bapak biologisnya usai ayahnya meninggal pada 2016. Ia pun menghubungi Wortman untuk menanyakan identitas ayah biologisnya. Namun, dokter itu berdalih tak menyimpan catatannya.

Setelah itu, wanita tersebut menerima hasil pengujian genetik yang mengungkapkan etnisnya dan keberadaan 2 saudara tirinya yang dikandung penerima donor pada tahun 1984 dan 1985. Penggugat lantas menemukan 3 saudara tiri lagi yang dilahirkan oleh penerima donor pada tahun 1983-1985.

Wanita tersebut awalnya tak mempermasalahkan keberadaan saudara tirinya. Namun, kesehatan emosional dan fisiknya kemudian terganggu.

"Setiap mengetahui adanya saudara tiri, penggugat mengalami peningkatan kecemasan, migrain, syok dan bingung, was-was, stres, dan manifestasi fisik lainnya setelah tahu ayahnya telah menjadi donor sperma berantai. Penggugat juga takut saudara tiri lainnya akan terus bermunculan dalam hidupnya," sebut gugatan itu.

Ia kemudian menemukan saudara tiri keenam pada tahun 2020 yang dikandung penerima donor lainnya pada tahun 1981.

Kecurigaan mulai muncul saat penggugat berobat ke Wortman akibat menstruasi yang tidak teratur setelah ia melahirkan 2 anak pada tahun 2008 dan 2011. Dokter itu pun merawatnya pada 2012-2021, termasuk melakukan berbagai pemeriksaan panggul, ultrasonografi transvaginal, dan penempatan IUC (kontrasepsi intrauterin).

Setiap berkonsultasi di klinik itu, sikap Wortman tak selazimnya perlakuan dokter kepada pasien, seperti memintanya melepas masker yang dikenakan untuk protokol Covid-19 dan memujinya terlihat lebih cantik tanpa masker. Dokter itu juga menanyakan masalah privasi, seperti nama anak-anaknya, nama suaminya, dan apa pekerjaan suaminya.

Wortman juga membahas pengalaman pribadinya sebagai seorang anak kepada wanita tersebut. Pada suatu hari, dokter itu berkata, "Kamu memang anak yang sangat baik."

Wanita itu pun yakin dokter itu adalah ayah kandungnya selama kunjungannya pada April 2021. Saat itu, istri Wortman datang ke ruang periksa agar bisa melihat kemiripan mereka berdua lantaran Wortman dan istrinya tahu ia adalah ayah kandung penggugat.

Pada Mei 2021, penggugat dan salah satu saudara tirinya berkomunikasi dengan putri Wortman dari pernikahan pertamanya. Mereka lantas setuju saudara tiri penggugat dan putri Wortman menjalani tes DNA. Hasilnya, mereka punya kemungkinan 99,99 persen bersaudara. Hasil tersebut telah dikonfirmasi melalui Pusat Diagnostik DNA.

Gugatan malpraktik lantas dilayangkan terhadap Wortman dan sejumlah karyawan di kliniknya karena sengaja menanamkan spermanya sendiri pada ibu penggugat. Akibat dari tindakannya, penggugat menderita luka pribadi yang parah dan permanen, termasuk trauma emosional dan psikologis yang signifikan, kehilangan kebahagiaan hidup, kerusakan finansial, dan rasa sakit dan penderitaan yang serupa dengan yang dialami oleh penyintas pelecehan seksual dan inses yang terngiang-ngiang hingga kemudian hari. Kerugaan ini juga akan terus dideritanya selama sisa hidupnya.

Menurut gugatan itu, Wortman bertanggung jawab atas seluruh kerugian yang ditimbulkan kepada penggugat, termasuk kerugian ekonomi masa lalu dan masa depan, juga pengeluaran medis di masa lalu yang dibayarkan kepadanya, serta biaya masa depan terkait dengan perawatan kesehatan mental penggugat yang diderita akibat ditipu. []