Rahmah

Kisah Bilal bin Rabah dan Azan Terakhirnya yang Membuat Satu Madinah Menangis

Ketika senja merah datang, angin sepoi-sepoi dan langit bersih dari mega, Bilal bin Rabbah akhirnya mengumandangkan azan kembali.


Kisah Bilal bin Rabah dan Azan Terakhirnya yang Membuat Satu Madinah Menangis
Sahabat Nabi (SINDONEWS)

AKURAT.CO Bilal bin Rabah menjadi salah satu sahabat yang masyhur di kalangan umat Islam. Sebab, pada masa Nabi, Sahabat Bilal ditugaskan mengumandangkan azan saat waktu salat tiba.

Sebagaimana diketahui, sahabat Rasulullah SAW yang satu ini berkulit hitam. Namun seorang Bilal memiliki hati yang putih dan mempunyai banyak kenangan dengan lelaki mulia yang menjadi Nabinya. Kenangan itulah yang selalu melekat dalam diri Bilal.

Awal mula Bilal bin Rabbah ditunjuk untuk mengumandangkan azan, karena dirinya memiliki suara yang sangat merdu. Akhirnya, posisi itu tak tergantikan oleh siapapun, kecuali pada saat peperangan terjadi, atau ketika ke luar kota bersama Nabi. 

Sebab semasa hidupnya, Sahabat Bilal tidak pernah berpisah dengan Nabi. Yang artinya, kemanapun Nabi akan pergi, Bilal selalu mengikuti Rasulullah SAW hingga Nabi wafat pada awal 11 Hijriah. 

Dimulai saat itu juga, Bilal memutuskan untuk tidak lagi mengumandangkan azan. Dan sampailah pada suatu hari, Bilal merindukan sosok Nabi SAW. Ia pun mengumandangkan azan kembali.

Sebelumnya, Bilal bin Rabbah telah mendapati sebuah mimpi yang dialaminya semalam. Dalam mimpinya itu, Bilal bertemu dengan Rasulullah SAW dan beliau berkata.

“Wahai Bilal, betapa rindunya aku padamu,” kata Rasulullah SAW dalam mimpi Bilal.

Kemudian satu orang mendengar cerita Bilal ini. Dan tak berselang lama, orang pertama menceritakan mimpi Bilal kepada orang kedua.

Begitu juga dengan orang kedua yang bercerita kepada orang ketiga, keempat, kelima dan seterusnya. Hingga hari menjelang sore, hampir seluruh penduduk Kota Madinah, kota yang sudah lama ditinggalkan Bilal mengetahui tentang mimpinya itu.

Dengan demikian, penduduk Madinah bersepakat, meminta Bilal untuk mengumandangkan azan di masjid Rasulullah SAW ketika waktu salat maghrib tiba. Sahabat Bilal pun tak kuasa menolak keinginan sahabat-sahabatnya itu.

Ketika senja merah datang, angin sepoi-sepoi dan langit bersih dari mega, Bilal bin Rabbah akhirnya mengumandangkan azan kembali. Penduduk Kota Madinah tercekam di dalam kerinduan. 

Sehingga rasa dalam dada membuncah, detik-detik bersama Rasulullah SAW, manusia tercinta terbayangkan kembali di pelupuk mata. Begitu rindunya penduduk Madinah sehingga tak kuasa menitikkan air mata kepada Nabi SAW. Wallahu A'lam Bishawab. []