Rahmah

Kisah As’ad bin Abu Zurarah, Sang Pemimpin Kaum Anshar

As’ad meraih tangan Rasulullah dan memotivasi orang-orang Anshar untuk serius membela Nabi


Kisah As’ad bin Abu Zurarah, Sang Pemimpin Kaum Anshar
Ilustrasi sahabat Nabi ( akhbarak.net)

AKURAT.CO As’ad bin Abu Zurarah termasuk sahabat Nabi yang pertama memeluk Islam. Ia dari kalangan Anshar dari kabilah Khazraj. Ia terlibat dalam dua baiat Aqabah, yaitu perjanjian bersejarah tentang sumpah setia penduduk Madinah untuk menjemput Rasulullah di Mekah untuk tinggal bersama mereka di Madinah.

Mendakwahkan Islam di tengah masyarakat Makkah bukan hal mudah. Beragam intimidasi, persekusi, bahkan pembunuhan terhadap umat muslim dilakukan orang-orang Quraisy untuk melemahkan dakwah Nabi Muhammad.

Di awal kedatangan Islam dan tekanan orang-orang Quraisy terhadap umat muslim di Makkah, datang dua orang dari Yatsrib (Madinah), yaitu As’ad bin Zurarah dan Dzakwan bin Abdu Qais. Maksud kedatangan keduanya ke Makkah untuk menemui tokoh Makkah dan Arab, yaitu Utbah bin Rabi’ah.

baca juga:

Sebelum menemui Utbah, mereka ingin bertemu dengan Rasulullah karena berdasarkan informasi yang beredar ada nabi akhir zaman di Makkah. Ini menjadi kesempatan emas bagi Nabi karena ada pimpinan Anshar mencarinya dan memiliki potensi untuk memeluk Islam.

Begitu sudah berjumpa, Rasul menawari keduanya untuk memeluk Islam. Beliau bacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Keduanya pun memeluk Islam dan tak jadi bertemu dengan Utbah bin Rabi’ah. Lalu kembali ke Madinah. Dua orang inilah yang pertama-tama membawa Islam ke Madinah.

Setelah memeluk Islam, As’ad turut membantu persebaran agama Islam di tanah kelahirannya. Salah satunya adalah saat menyebarkan Islam di sana bersama Mus’ab bin Umair. Dengan cara-cara yang santun keduanya mampu mengislamkan banyak penduduk.

Salah satu kisah kebersamaannya dengan Rasulullah adalah saat peristiwa Baiat Aqabah bersama sejumlah kaum Anshar. “Rasulullah, kami ingin membaiat Anda,” kata Anshar saat itu.

Nabi pun menjawab, “Kalian mau membaiatku dengan janji untuk mendengar dan taat dalam kondisi semangat mau capek. Dalam kondisi sulit maupun mudah. Dalam amar makruf dan nahi mungkar. Berkata di jalan Allah tanpa takut celaan orang-orang mencela. Melindungiku apabila aku tinggal bersama kalian. Sebagaimana kalian melindungi istri dan anak-anak kalian? Dan balasan untuk kalian adalah surga.”

Lalu As’ad meraih tangan Rasulullah dan memotivasi orang-orang Anshar untuk serius membela Nabi dan betul-betul memegang teguh baiat mereka dalam segala kondisi.[]

Sumber: Kisahmuslim.com