Rahmah

Kisah Ali dan Fathimah: Teladan Kesederhanaan dalam Membangun Rumah Tangga

Pada suatu hari, Ali bin Abi Thalib bertanya kepada istrinya, “Wahai Fathimah, apakah ada makanan yang dapat aku santap hari ini?”


Kisah Ali dan Fathimah: Teladan Kesederhanaan dalam Membangun Rumah Tangga
Kaligrafi Ali (Detik)

AKURAT.CO  Pada suatu hari, Ali bin Abi Thalib bertanya kepada istrinya, “Wahai Fathimah, apakah ada makanan yang dapat aku santap hari ini?”

"Tidak ada, aku berbagi hari dalam keadaan tidak ada makanan untukmu, begitu juga untukku dan kedua anak kita!!” jawab Fathimah.

Kemudian Ali bertanya lagi, “Tidakkah engkau menyuruhku untuk untuk mencari makanan?”.

“Aku malu kepada Allah untuk meminta kepadamu yang engkau tidak memilikinya!!” kata Fathimah.

Setelah itu, Ali keluar dari rumahnya. Ali yakin dan khusnuzon kepada Allah dan meminjam uang satu dinar untuk membeli makanan bagi keluarganya. Namun belum sempat membelanjakan uang satu dinar itu, ia melihat sahabat Rasulullah SAW lainnya, Miqdad al Aswad, sedang berjalan sendirian di padang pasir yang panas. 

Ali lalu menghampirinya dan berkata, “Wahai Miqdad, apa yang membuatmu gelisah?".

"Wahai Abul Hasan, janganlah mengganggu aku, janganlah menanyakan kepadaku sesuatu yang di belakangku (peristiwa yang menimpa sebelumnya)!!” jawab Miqdad.

"Wahai Miqdad, tidak seharusnya engkau menyembunyikan keadaanmu dari aku!!” kata Ali.

“Kalau begitu, baiklah kalau engkau memang memaksa, demi Zat yang memuliakan Muhammad dengan kenabian, tidak ada yang menggelisahkan aku dalam perjalanan ini, kecuali karena aku meninggalkan keluargaku dalam keadaan kelaparan. Ketika aku mendengar tangisan mereka, bumi serasa tidak mampu memikulku, aku pergi dengan tidak mempunyai muka (sangat malu)!!” jelas Miqdad.

Ternyata Miqdad enggan menceritakan keadaannya karena ia sangat mengenal Ali. Sebab, keadaan Ali tidaklah lebih baik daripada dirinya, apalagi ia seorang yang sangat pintar merasa dan sangat pemurah. Sehingga hasil dari ceritanya itu langsung terlihat.

Sehingga, Ali mengucurkan air mata hingga membasahi jenggotnya. Kemudian dengan terbata ia berkata, “Aku bersumpah dengan Dzat yang engkau bersumpah dengan-Nya, tidaklah menggelisahkanku kecuali seperti yang menggelisahkan engkau juga, untuk itu aku telah meminjam uang satu dinar, ini untukmu saja, ambillah!! Aku dahulukan engkau daripada diriku sendiri!!”.

Dengan demikian, Miqdad menerima uang itu dengan gembira. Sementara Ali berlalu pergi ke Masjid untuk melaksanakan salat zuhur karena waktunya hampir menjelang. Wallahu A'lam Bishawab. []